Kepunahan Massal Terparah dan Hewan-hewan Laut yang Mati Karena Pemanasan Global

By Gita Laras Widyaningrum, Jumat, 7 Desember 2018 | 10:52 WIB
ilustrasi pemanasan global (Ekaterina_Simonova)

Nationalgeographic.co.id - Sekitar 252 juta tahun lalu, Bumi mengalami kepunahan massal terparah.

Para ahli telah lama dipusingkan dengan penyebab peristiwa The Great Dying (kematian besar) pada akhir Periode Permian. Kala itu, ada sekitar 70% hewan darat dan 96% makhluk laut yang mati. Ekosistem yang tadinya berfungsi dengan baik digantikan dengan tumpukan mayat hewan––menjadikan Permian sebagai periode tersuram.

Beberapa teori bermunculan untuk menjelaskan kepunahan massal hewan laut tersebut. Ada yang mengatakan bahwa suhu terlalu tinggi, air terlalu asam atau terkontaminasi dengan sulfida yang menjadi penyebab kematian mereka.

Namun, menurut penemuan terbaru yang dipublikasikan pada jurnal Science, makhluk-makhluk laut punah di akhir Periode Permian karena pemanasan global. Akibatnya, sekitar 80% oksigen di perairan juga menghilang.

Baca Juga : Apakah Bioplastik Dapat Menjadi Solusi Atas Permasalahan Plastik?

Para ilmuwan di University of Washington dan Stanford University mencoba melakukan simulasi dengan menyesuaikan kondisi laut dan metabolisme hewan di akhir Periode Permian, ketika benua menjadi satu sebagai Pangea. Mereka juga meneliti arsip fosil yang membahas tentang di mana hewan-hewan laut hidup sebelum dan sesudah peristiwa The Great Dying.

Hasilnya menunjukkan bahwa mekanisme pemanasan iklim dan hilangnya oksigen adalah penyebab utama kepunahan massal.

"Hanya sedikit organisme laut yang dapat tinggal di habitat yang sama. Saat peristiwa tersebut terjadi, banyak yang melarikan diri ke luar tempat tinggalnya. Mereka yang tidak berhasil pergi akhirnya binasa," papar Dr. Curtis Deutsch, wakil peneliti studi dan profesor ilmu kelautan di University of Washington.

Baca Juga : (Video) Nahas, Paus Sperma Mati dengan Berbagai Sampah di Dalam Perut

Organisme tropis, yang terbiasa dengan lingkungan hangat dan rendah oksigen, cenderung mampu beradaptasi dengan habitat baru. Namun, mereka yang tinggal di wilayah dingin dan jauh dari garis khatulistiwa adalah yang paling parah terkena dampaknya.

Studi ini dipublikasikan sehari setelah para ilmuwan merilis Global Carbon Budget 2018, tingkat peringatan emisi karbon ditetapkan untuk mencapai rekor baru menjelang akhir tahun. Jika jumlah emisi karbon tidak dikurangi, pemanasan global bisa semakin parah. Dampaknya, Bumi akan segera mengalami kepunahan massal selanjutnya.