Berlangganan

Mengapa Gunung Anak Krakatau Masih Berbahaya? Ini Penjelasan Peneliti

Rabu, 09 Januari 2019 | 09:30 WIB
National Geographic Indonesia, Gita Laras Widyaningrum
Bagikan :
Ricky Martin/National Geographic Indonesia
Aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau terus meningkat. Statusnya menjadi siaga (Level III).

Nationalgeographic.co.id - Pada 22 Desember 2018 pukul 21.03 WIB, sebuah bongkah seluas 64 hektare (158 are) dari gunung api Anak Krakatau di Selat Sunda longsor di lautan setelah erupsi. Longsoran ini menciptakan tsunami yang menghantam wilayah pesisir di Jawa dan Sumatra, menewaskan setidaknya 426 orang dan melukai 7.202 orang.

Data satelit dan rekaman holikopter yang diambil pada 23 Desember mengkonfirmasi bahwa bagian sektor barat daya dari gunung api tersebut telah ambruk ke laut. Dalam sebuah laporan 29 Desember, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan bahwa tingginya Anak Krakatau turun dari 338 meter (1.108 kaki) di atas permukaan laut ke 110 meter (360 kaki).

Suatu simulasi peristiwa gunung berapi menunjukkan potensi gelombang 15 meter atau lebih secara lokal (merah) yang berasal dari situs Anak Krakatau. Giachetti et al. (2012)
Saya dan kolega saya telah menerbitkan satu riset pada 2012 melihat bahaya yang ditimbulkan situs ini dan menemukan bahwa, meski sangat sulit untuk memperkirakan jika dan kapan Anak Krakatau akan runtuh sebagian, karakteristik gelombang yang dihasilkan oleh peristiwa semacam ini tidak sepenuhnya tidak dapat diprediksi.

Dipicu longsoran

Meski sebagian besar tsunami memiliki asal-usul seismik (misalnya, tsunami di Aceh pada 2004 dan tsunami di Tohuku Jepang pada 2011), mereka juga dapat dipicu oleh fenomena yang terkait dengan letusan gunung berapi besar.

Tsunami yang disebabkan oleh gunung berapi dapat dipicu oleh ledakan kapal selam atau oleh aliran piroklastik yang besar–campuran panas gas vulkanik, abu dan balok yang bergerak dengan kecepatan puluhan kilometer per jam–jika mereka masuk ke dalam badan air. Penyebab lainnya adalah ketika sebuah kawah besar terbentuk karena runtuhnya atap kamar magma–sebuah reservoir besar batuan panas di bawah permukaan bumi–setelah letusan.

Di Anak Krakatau, massa besar yang meluncur dengan cepat yang menghantam air menyebabkan tsunami. Jenis peristiwa ini biasanya sulit diprediksi karena sebagian besar massa yang meluncur berada di bawah permukaan air.

Tanah longsor vulkanik ini dapat menyebabkan tsunami besar. Tsunami yang dipicu oleh tanah longsor mirip dengan apa yang terjadi di Anak Krakatau yang terjadi pada Desember 2002 ketika 17 juta meter kubik (600 juta kaki kubik) material vulkanik dari gunung api Stromboli, di Italia, memicu gelombang setinggi 8 meter.

Baru-baru ini pada Juni 2017, gelombang setinggi 100 meter dipicu oleh tanah longsor 45 juta meter kubik (1,6 miliar kaki kubik) di Karrat Fjord di Greenland menyebabkan naiknya gelombang air laut secara cepat yang mendatangkan malapetaka dan menewaskan empat orang di desa nelayan Nuugaatsiaq yang terletak sekitar 20 km (12,5 mil) dari lokasi keruntuhan.

Gambar satelit diambil pada 20 Agustus (kiri) dan 24 Desember (kanan) yang menunjukkan perubahan topografi Anak Krakatau (dalam lingkaran merah) sebelum dan sesudah letusan. Geospatial Information Authority of Japan, CC BY-NC-ND
Kedua tsunami ini memiliki sedikit kematian korban karena terjadi di lokasi yang relatif terisolasi (Karrat Fjord) atau selama periode tanpa aktivitas wisata (Stromboli). Ini jelas tidak terjadi di Anak Krakatau pada 22 Desember.

Anak Krakatau

Bagian dunia ini berpengalaman dengan gunung berapi yang merusak. Pada 26-28 Agustus 1883, gunung api Krakatau mengalami salah satu letusan gunung berapi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah manusia, menghasilkan 15 meter (50 kaki) gelombang tsunami dan menyebabkan lebih dari 35.000 korban tewas di sepanjang pantai Selat Sunda di Indonesia.

Hampir 45 tahun setelah letusan dahsyat pada 1883 ini, Anak Krakatau muncul dari laut di lokasi yang sama dengan bekas Krakatau, dan tumbuh mencapai sekitar 338 meter (1.108 kaki), ketinggian maksimumnya pada Desember 22, 2018.

Tag:

Lainnya

Kenangan Warga Kala Krakatau Mengguncang Batavia

Ketika Krakatau menggelegar pada Agustus 1883, warga Pasar Ikan hingga Pasar Senen panik dan sebagian menganggapnya sebagai tanda kedatangan Hari Kiamat.
2015-08-12 18:00:00