Koran Kuno tentang Peran Tuan Tanah Cina dalam Pendidikan di Tangerang

By Mahandis Yoanata Thamrin, Senin, 29 April 2019 | 07:00 WIB
Surat kabar "Bintang Timor" diterbitkan pertama kali oleh Gebroeders Gimberg & Co. pada 1862 di Surabaya. (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia)

Nationalgeographic.co.id— “Mari ikut bersama saya,” ujar Westi. Kami meniti tangga menuju sebuah ruangan luas dengan deretan rak yang menyimpan koleksi surat kabar zaman Hindia Belanda. Westi seorang petugas di Perpustakaan Nasional yang tengah mencari bundel Bintang Timor edisi 1874 untuk saya.

Dengan bantuan sebuah bangku, dia bisa melihat beberapa bundel koran dalam bongkahan kantong-kantong plastik bening di atap rak. Koran kuno yang saya maksud berhasil ditemukan. “Sepertinya ini belum dibuat mikrofilmnya,” ujarnya.

Saya membuka repihan Bintang Timor edisi 13 Mei 1874 dengan hati-hati—menahan napas sambil memilah dengan jemari. Tersebutlah, Tan Tjeng Po, seorang asisten residen dan tuan tanah, mendirikan satu sekolah atas biayanya sendiri untuk bocah-bocah desa yang mendiami kawasan tanah partikelir miliknya di Batu Ceper.

Pada peresmian sekolah yang digelar pada 1 Mei pada tahun tersebut, tampaknya Tjeng Po punya harapan supaya  mereka mendapatkan pengajaran dan pendidikan seperti layaknya anak-anak di kota. “Liat bagaimana soeka hati sa orang toewa di roemahnja,” demikian tulis koran itu.”Liat dan denger anak-anaknja masing-masing pegang boekoe di tangannja, dan segala ka tjeritaan ilmoe di koeliling doenia dia tjari tahoe dan bolee tjerita...”

Koran itu mengabarkan juga bahwa jarang sekali orang Cina mempunyai keinginan mulia seperti Tjeng Po. Jika sekolah itu berjalan dan anak-anak dusun dapat mengambil manfaat dari pendidikan, mereka akan selalu mengenang kedermawanan sang tuan tanah itu. “Anak negri nanti poedji dan bilang trima kasi kepada Tan Tjeng Po, serta dia poenja nama nanti tinggal hidoep selama-lamanja.”

Baca juga: Stigma Janda Muda dalam Tembok Kota Batavia

Setahun berikutnya, pada edisi 29 Mei 1875, Bintang Timor mengabarkan lagi seorang filantropi dan letnan tituler Souw Siauw Tjong mendirikan sekolah serupa di Mauk. Sang tuan tanah itu dikenal kerap berderma, memberi makan orang miskin, dan rendah hati itu memiliki tanah yang terbentang di Parungkuda, Kedaung Wetan, dan Ketapang. Orang terkaya di Batavia pada masanya itu mewariskan rumah berlanggam Cina di Glodok, Jakarta Kota, yang sampai saat ini kita masih bisa menyaksikannya. 

Surat kabar "Bintang Timor" diterbitkan pertama kali oleh Gebroeders Gimberg & Co. pada 1862 di Surabaya. (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia)

Sejarah mencatat, hamparan pertanian dan perkebunan Tangerang pernah dikuasai oleh para tuan tanah dan opsir Cina hampir sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dan, koran ini telah mengabarkan kesadaran sosial budaya yang mewakili orang-orang Cina bahwa ada seorang tuan tanah yang tak hanya bekerja untuk menumpuk harta belaka.

Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 memang telah mendirikan sekolah-sekolah untuk bumi putra yang diharapkan dapat bekerja sebagai ambtenar atau abdi pemerintah. Namun, lantaran kurangnya dana pendidikan pemerintah, orang-orang Cina memprakarsai mendirikan sekolah partikelir untuk golongan mereka. Sampai akhir abad ke-19 di Jawa dan Madura, terdapat lebih dari 200 sekolah serupa yang mengasuh sekitar 4.400 murid.

Baca juga: Apa yang Dipesan Chairil Anwar Setibanya di Batavia?

Koran Bintang Timor berbahasa melayu pasar, terbit pertama kali pada 1862 di Surabaya. Awalnya, para pembacanya merupakan  kalangan pebisnis di kota-kota Jawa Timur, namun berkembang ke seantero Jawa, bahkan Sumatra dan Makassar. Koran dwi-mingguan ini sejak pertengahan 1887 berganti pemilik dari Gebroeders Gimberg & Co. ke pemilik baru, Tjoa Tjoan Lok. Namanya pun berubah menjadi Bintang Soerabaja.

Usai membaca setumpuk "naskah sejarah" itu saya merapikan kembali lembaran-lembaran yang merepih itu dibantu Westi. Dia berujar bahwa sesungguhnya, sebagai pelestari dan pustakawan, dia tidak tega melihat keadaan koleksi yang merepih itu. Sayangnya, menurut Westi, mesin pemindai naskah yang baru dimiliki kantornya itu belum bisa dioperasikan.

“Salah megang saja nanti robek,” ungkapnya sambil memunguti remah-remah koran yang tercecer. “Saya melihatnya sedih juga. Membawanya saja harus seperti menggendong bayi.” Kemudian, saya ingat kata-kata pamungkasnya kepada saya, “Anda mungkin pembaca terakhir koran ini karena saya pun tidak berani membukanya lagi.”