Mengkaji Aspek-Aspek Sosial dalam Pemindahan Ibu Kota Negara

By Aditya Driantama H, Jumat, 13 Maret 2020 | 15:43 WIB
Perpindahan ibu kota negara (IKN) Indonesia sedang dalam pengerjaan, menjadi sebuah 'PR' besar bagi pemerintah. Tak hanya lahan serta desain infrastruktur yang persiapkan, namun aspek sosial pun juga jadi perhatian. (Kementerian PUPR, Urban+)

Nationalgeographic.co.id - Permindahan ibu kota negara (IKN) Indonesia sedang dalam pengerjaan dan ini menjadi sebuah 'PR' besar bagi pemerintah. Tak hanya lahan serta desain infrastruktur yang harus dipersiapkan, tapi juga aspek sosial

Vivi Yulaswati, Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan memaparkan materi soal aspek-aspek sosial yang harus diperhatikan saat pemindahan IKN.

Ia mengatakan, ada tiga aspek besar yang berdampak bagi masyarakat Kalimantan Timur, yakni struktur masyarakat, cara hidup, serta sosial budaya dan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Kemacetan Parah Membuat Semua Transportasi Umum di Negara ini Gratis

Pada aspek sosial budaya, Kalimantan Timur dinilai memiliki keberagaman karakteristik kebudayaan, terlihat dari berbagai kearifan ekologi dan kebudayaan masyarakat yang sehari-hari masih dilakukan.

Namun, seiring dengan berkembangnya modernisasi, karakteristik kebudayaan tersebut 'tidak sampai’ ke masyarakat--terutama generasi milenial. “Berbagai karakteristik budaya dan juga kearifan loka tersebut kalau kita tanyakan kepada generasi milenial seringkali mereka sulit menjelaskan. Seperti ada, tapi detailnya kurang,” terang Vivi.

Ada juga tantangan dari aspek sumber daya manusia. Pada isu kesehatan, jumlah penyakit di daerah tersebut masih dibilang tinggi. Ini disebabkan oleh aktivitas penambangan dan kehutanan yang masif. Juga karena kurangnya akses pelayanan kesehatan terutama di daerah pedalaman. Bahkan, kabupaten Penajam Paser Utara tercatat sebagai salah satu wilayah dengan tingkat malaria tertinggi. 

Baca Juga: Virus Corona Ubah Kebiasaan Bertegur Sapa di Beberapa Negara Ini

Proses pembangunan IKN yang baru juga menimbulkan isu, yakni terpinggirkannya masyarakat asli dan lunturnya identitas budaya. Vivi menjelaskan bahwa ini terjadi karena proses modernisasi seperti transmigrasi, pemukiman kembali, dan asimilasi budaya yang memengaruhi kehidupan masyarakat asli.

“Mulai dari perubahan pola kehidupan, hingga cara mengakses layanan dasar termasuk teknologi. Pada akhirnya itu memberikan dampak bagi peningkatan sumber daya manusia, namun juga dapat melemahkan budaya lokal,” ungkapnya. 

Vivi menambahkan bahwa pemindahan IKN ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat identitas. Itu semua bisa terwujud melalui partisipasi budaya lokal dalam pembangunan IKN tersebut.