Lebih Dekat dan Lebih Rekat Bersama Warga Kampung Asmat di Papua

By Utomo Priyambodo, Sabtu, 27 Februari 2021 | 10:00 WIB
Hasil karya ukiran dalam Festival Budaya Asmat yang dimuseumkan. (Lutfi Fauziah)

Nationalgeographic.co.id—Perjalanan untuk mengunjungi Kampung Asmat di Kota Agats, Papua, memang tidak pernah mudah. Tapi segala peluh dan lelah akan terbayar dengan pemandangan sepanjang perjalanan yang indah.

Dari Bandar Udara Mozes Kilangin di Timika kami terbang menuju Bandar Udara Ewer di Ewer. Dari atas pesawat kami menyaksikan pemandangan topografi Papua yang sangat indah. Sungai yang berkelok-kelok di Papua seperti Sungai Amazon.

Setiap di Bandara Ewer, kami masih harus meneruskan perlajanan air dengan long boat menyusuri Sungai Asewets. Pemandangan hutan bakau di sepanjang sungai yang dalam dan lebar ini juga sangat indah.

 

Kampung Asmat sendiri terletak pinggir Kota Agats, tepatnya di delta Sungai Asewets, di daerah dataran rendah yang terimbas pasang surut air laut. Saat air pasang, air dapat naik hingga 5 meter di atas permukaan laut.

Karena air pasang ini, semua bangunan dan jalan ditinggikan dengan struktur kayu-kaku papan, dan yang lebih baru, beton. Oleh karena itulah Agats disebut kota seribu papan.

Suku Asmat di Kampung Asmat Papua sendiri memiliki kerajinan tangan yang unik dan sangat natural. Sebagian kerajinan tersebut dijual, sebagian lainnya menjadi koleksi yang dipajang di Museum Asmat. Ada kerajinan tangan yang berbentuk patung, perhiasan, kendang, hingga alat berburu.