Berlangganan

Berakhirnya Pangan dan Minyak Murah

Rabu, 18 Maret 2009 | 10:56 WIB
Bagikan :
Melonjaknya harga minyak dunia belum mengguncang harga pangan domestik secara dahsyat. Namun sampai kapan?

Optimisme datang dari Kepala Badan Pengelola Migas Prijono, produksi minyak Indonesia akan bisa ditingkatkan menjadi satu juta barel perhari pada akhir tahun 2008. Produksi itu, tentu saja tidak bisa mengerem laju kenaikan harga minyak bumi di pasar dunia tetapi akan memperbesar peluang pemerintah untuk membantu kelompok miskin seperti Ita dan Saripah. Tanda-tanda kenaikan itu belum juga terlihat sampai pertengahan tahun, dan seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kenaikan produksi tinggal angan-angan. Bahkan produksi dari lapangan mudah dieksploitasi seperti lapangan Cepu yang dikelola Pertamina dan ExxonMobil Indonesia di Jawa Timur, tidak juga mengucurkan minyak. ”Sebagian besar lapangan minyak Indonesia adalah lapangan tua, jadi sulit diangkat produksinya,”kata Prijono.

Bukan cuma penurunan produksi tetapi konflik pertanahan dan rendahnya investasi menyebabkan produksi minyak Indonesia terus merosot, meskipun jarang diakui para kontraktor minyak. ”Kami tidak ada masalah di lapangan, tapi memang butuh waktu tiga tahun untuk berproduksi,” kata jurubicara ExxonMobil Indonesia, Deva Rachman, setelah berbulan-bulan dipusingkan masalah harga tanah yang tak kunjung kelar. Sekarang, ExxonMobil memerlukan anah 20 hektare untuk tahap awal dan 700 hektare setelah berproduksi dalam skala penuh. ”Kami akan mendapatkannya,” kata Deva. dan seandainya tanah itu berhasil dibeli, sebagian besar adalah lahan sawah yang produktif. Kontraktor asal Houston, Amerika Serikat itu memang sedang mengejar tenggat produksi dari lapangan Banyu Urip di Cepu, setidakanya pada tanggal 10 Desember, tepat di hari ulang tahun Pertamina.
!break!

Lapangan minyak tua (mature) juga menjadi salah satu masalah serius bagi kontraktor migas. ”Penurunan produksi lapangan Chevron tergolong alami, karena lapangannya sudah tua,”kata General Manager Exploration, Production Technology & Operation Support Chevron Asia, Bambang Pratesa. Saat ini produksi Chevron di Riau menyumbang hampir 50 persen produksi minyak nasional. Alhasil, tanpa penemuan lapangan baru dalam sepuluh tahun terakhir, produksi minyak Indonesia tahun lalu rata-rata 910 ribu barel perhari atau terendah dalam 35 tahun terakhir. Kesenjangan antara angka produksi dengan konsumsi yang besarnya berkisar 200-300 ribu barel perhari menyebabkan Indonesia sudah menjadi net oil importer sejak tahun 2005.

Pengamat perminyakan dan mantan Kepala Badan Pembinaan Pengusahaan Kontaktor Asing (Sekarang BP Migas) Effendi Situmorang mengatakan sulit bagi lapangan Banyu Urip menghasilkan devisa pada akhir tahun ini, karena mereka belum menyiapkan fasilitas pengelolaan dan pemipaan untuk mengalirkan minyaknya. ”Kalau cuma mengucurkan minyak dari sumur sih mungkin saja,”katanya.

Effendi memperkirakan bila harga minyak dunia naik terus, maka tambahan produksi baru di dalam negeri tidak akan bisa mempertahankan harga bahan bahan bakar minyak tetap seperti sekarang. Pasalnya dari sekitar satu juta barel produksi minyak perhari (bpd), pihak Indonesia cuma memiliki hak sekitar 500 ribu barel, karena dipotong bagi hasil dengan kontraktor dan mengembalikan biaya produksi yang dikeluarkan (cost recovery). Akibatnya, dengan tingkat konsumsi 1,1 juta bpd, Indonesia masih harus mengimpor 500-an ribu bpd, dengan harga pasar. Artinya makin tinggi harga minyak dunia maka subsidinya semakin membengkak. ”Seandainya harga minyak Indonesia tidak dipatok 100 dolar perbarel dalam APBN, maka surplus penerimaan akan tinggi, karena biayanya ekspoitasinya cuma sekitar 15 dolar perbarel,”katanya. Tanpa perubahan kebijakan APBN, kenaikan harga minyak dunia hampir pasti menambah beban hidup untuk jutaan Ita dan Sari di seluruh Indonesia.