Bandung Bukan Sekadar Kenangan

By , Senin, 29 Februari 2016 | 12:00 WIB

Bandung adalah kota tempat saya di besarkan—walaupun bukan dilahirkan. Kota ini menyimpan banyak cerita dan kenangan masa kecil saya sampai sekarang. Banyak sekali yang ingin saya ceritakan mengenai kota ini. Saya akan mencoba berbagi cerita lewat ragam lukisan cat air yang memang sengaja saya buat untuk mengenang kembali masa-masa itu.

Sejatinya banyak yang ingin saya ceritakan. Saya mengamati, sungguh banyak sekali perubahan di kota Bandung. Namun, lantaran keterbatasan saya dalam hal menuangkannya ke dalam bahasa lukisan, hanya segelintir lukisan yang bisa mewakili cerita saya mengenai Bandung. Saya menekankan kepada wajah kota  yang menurut saya tidak banyak berubah sampai hari ini—menurut hemat saya.

Jalan Ir. H. Juanda atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Dago, salah satu jalan yang sangat terkenal bahkan menjadi salah satu tengara Bandung. Pada jaman dahulu jalan ini membelah hutan pepohonan dan sangat sepi sehingga timbul istilah “dago” yang artinya “menunggu”. Kala lampau, orang yang bermaksud  melewati jalan ini harus saling menunggu supaya bisa berjalan bersama untuk alasan keamanan. Bertolak belakang dengan Dago sekarang, yang sangat ramai, selalu macet karena banyaknya toko, tempat makan dan factory outlet. Saya mencoba menampilkan kembali seruas jalan ini yang seakan-akan terpisah oleh dimensi waktu. Sebelah kiri adalah Dago ketika belum ditemukan kendaraan bermotor, sedangkan gambar di sisi kanan adalah Dago ketika kendaraan bermotor sudah sangat padat.

Saya pernah mengalami masa-masa remaja awal. Pada saat itu sedang tren yang sedang seru istilahnya adalah Jalan jalan Sore—JJS. Nah, untuk kota Bandung, JJS ini berpusat di jalan Dago.

Saya pernah mengalami masa-masa remaja awal. Pada saat itu sedang tren yang sedang seru istilahnya adalah Jalan jalan Sore—JJS. Nah, untuk kota Bandung, JJS ini berpusat di jalan Dago. Setiap Sabtu atau Minggu sore, jalanan ini macet. Penuh kendaraan. Mereka umumnya anak-anak muda yang nongkrong atau sekedar lalu lalang—istilah gaulnya pada masa itu adalah ngeceng. Dulu saya hampir tidak pernah melewatkan kegiatan ini setiap weekend. Karena selain seru dan terkadang juga menambah teman baru, Jalan Dago acap kali dipakai untuk beberapa acara anak muda. Saya ingat waktu itu salah satunya adalah Fashion On The Street, peragaan busana di tengah jalan. Median pemisah jalur di tengah jalan dijadikan catwalk bagi para model yang berlenggak-lenggok memamerkan karya para perancang. Mereka bergaya di antara kendaraan-kendaraan yang melintas. Seru!

Sampai sekarang—walaupun sudah terlalu padat dengan ragam tempat usaha dan kemacetan parah—Jalan Dago masih menjadi tempat berbagai acara pada Minggu pagi dalam suasana Car Free Day.

Saya juga ingin bercerita tentang salah satu gedung yang menautkan saya dan Bandung. Gedung Bumi Sangkuriang. Bangunan sohor ini bekas tempat berkumpulnya kalangan menengah atas Belanda dan kaum menak lokal. Country Club Concordia, demikian tengara bangunan lawas ini. Namun, atas usulan Presiden Soekarno, namanya diganti menjadi nama yang lebih “Indonesia”: Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang. Bangunannya nyaris tidak ada yang berubah.

Selama ini pengelola melakukan pemeliharaan dan perawatan yang cermat dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya. Tempat ini salah satu favorit saya karena suasananya yang tenang, dan menu makanannya yang klasik. Walaupun saya lahir di zaman pembangunan, bersantai di sini ibarat petinggi amtenar kala zaman Hindia Belanda.

Untuk orang Bandung asli, sangat tidak mungkin untuk mengatakan Bumi Sangkuriang ini tidak menyimpan kenangan apa pun. Dari berbagai angkatan, saya sangat yakin, mereka pernah atau bahkan sering datang ketempat yang berjulukan “BS” ini.

Untuk orang Bandung asli, sangat tidak mungkin untuk mengatakan Bumi Sangkuriang ini tidak menyimpan kenangan apa pun. Dari berbagai angkatan, saya sangat yakin, mereka pernah atau bahkan sering datang ketempat yang berjulukan “BS” ini. Sebagai tempat pertemuan, suasananya menyenangkan. Dengan halaman belakang yang luas dan ada kolam renangnya.Tempat yang enak untuk santai dan bersantap. Dengan menu makanan Indonesia dan beberapa kudapan ala Belanda. Untuk saya pribadi, “BS” banyak meyimpan kenangan. Saya dan teman-teman kerap nongkrong menyaksikan live music di sini. Beberapa sekolah masih sering mengadakan acara di sini, misalnya untuk acara ulang tahun atau reuni. Beberapa bulan silam, saya dan rekan seangkatan SMA juga masih mengadakan acara kumpul-kumpul di sini. Alasannya, semua sama: tempat ini tidak banyak berubah, masih menyimpan kenangan, nyaman, dan menyenangkan.

Sejak kecil saya memang sudah senang corat coret, tetapi tidak pernah serius. Kegemaran ini berlanjut sampai SMA. Saya juga sangat mendamba untuk diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Namun, pada kenyataannya harapan itu pupus. Akhirnya, saya melanjutkan studi ke FISIP UNPAR. Semenjak itu saya meninggalkan semua hal yang berhubungan dengan menggambar.

Sekitar beberapa tahun silam, saya bertemu seorang yang sangat menginspirasi, namanya Anto "Motulz". Seorang sketcher berbakat dan berprestasi. Dialah yang memberi saya semangat untuk kembali menggambar, berlatih, dan berlatih. Kini, saya masih terus mendalami dan belajar tentang apa dan bagaimana menggunakan media cat air.  Tidak ada waktu atau saat yang tepat untuk menggambar, alias tidak ada waktu khusus. Kapanpun bisa melakukannya. Apalagi sekarang sedang tren sketch on location, jadi saya selalu membawa peralatan gambar dan pernik-perniknya yang dikemas ringkas, ke manapun.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

W. RUDI “ODIE” ASTADI menemukan kegemarannya untuk melukis kembali setelah berhenti selama bertahun-tahun. Sejak 1996, Odie  bergabung sebagai entertainer ProjectPop. Simak galeri lukisannya di akun Instagram @SiOdie.