Perhitungan Populasi Hiu Martil Keliru

By , Selasa, 27 Maret 2012 | 22:33 WIB

Ilmuwan baru-baru ini mengonfirmaskan bahwa hiu martil bergerigi ternyata punya kembaran, sebuah spesies hiu baru, belum diberi nama, yang sangat berbeda namun sangat dekat dengan hiu yang terancam punah tersebut. Tetapi, kasus salah pengertian identias ini sekaligus mengindikasikan bahwa hiu martil bergerigi bahkan lebih langka dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Berhubung sulit untuk membedakan kedua spesies hiu martil tersebut—hanya bisa diketahui dari DNA dan jumlah tulang belakangnya untuk mengetahui identitas satu sama lain—tampaknya studi-studi terdahulu terkait penghitungan populasi hiu martil bergerigi keliru. Karena peneliti menghitung pula jumlah spesies hiu lain yang tampak serupa.

“Kesalahan identifikasi ini merupakan kasus klasik yang tidak hanya menggambarkan ketidakpastian status sebenarnya dari hiu martil bergerigi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan status populasi spesies hiu martil baru ini,” kata Mahmood Shivji, peneliti dari Nova Southeastern University, Florida, Amerika Serikat.

Spesies hiu baru itu sendiri pertamakali ditemukan oleh Shivji dan timnya di tahun 2005 lalu saat mereka mengamati DNA hiu yang berdasarkan tampilan fisiknya, hiu ini diperkirakan merupakan hiu martil bergerigi. Sebuah tim peneliti lain dari University of South Carolina kemudian melakukan riset independen dan mereka mengonfirmasikan adanya spesies baru ini di tahun 2006.

Dari uji coba genetik yang dilakukan oleh kedua institusi, diketahui bahwa setidaknya tujuh persen dari seluruh hiu di perairan Amerika Serikat, yang dikira merupakan hiu martil bergerigi, ternyata merupakan spesies hiu martil baru.

Kini, peneliti mengetahui bahwa hiu yang belum punya nama ini telah berenang hingga perairan lepas pantai Brasil, ribuan kilometer jauhnya dari tempat pertamakali di mana spesies tersebut dijumpai. Penemuan ini juga menunjukkan bahwa spesies tersebut tersebar luas dan mungkin menghadapi tekanan yang sama, serupa dengan saudaranya yang nyaris identik.

Seperti diketahui, populasi hiu di seluruh dunia turun drastis dalam beberapa dekade terakhir, dengan jutaan ekor di antaranya menjadi korban finning (sirip mereka dipotong hidup-hidup). Sirip ini sendiri sangat mahal harganya di China, negara yang warganya gemar memakan sup sirip ikan hiu.

Finning dilarang keras di Amerika Serikat. Sejumlah Negara-negara bagian di negeri itu juga telah melarang perdagangan dan kepemilikan sirip ikan hiu. Namun ironisnya, bukti-bukti yang didapat menunjukkan bahwa di seluruh dunia, praktek finning terus berlangsung dan merenggut jutaan nyawa ikan hiu setiap tahunnya.