Misi Mengungkap Ikan Purba di Asa Koma dan Danau Abhé, Djibouti

By Galih Pranata, Sabtu, 7 Agustus 2021 | 16:00 WIB
Potret Danau Abhe yang menjadi situs pusat peradaban purbakala di Djibouti. (Somailand Travel)

Nationalgeographic.co.id—Asa Koma dan Danau Abhé, merupakan wilayah di Negara Djibouti yang terletak di benua Afrika. Wilayah ini ternyata memiliki sejarah yang panjang. Para ilmuwan telah melakukan penelitian di sepanjang wilayah Asa Koma sampai Danau Abhé dan menemukan banyak bukti adanya kehidupan prehistoric atau kehidupan prasejarah.

Kehidupan prasejarah sering kali dikaitkan dengan era purba. Di Asa Koma, terdapat situs-situs penting yang telah diselidiki dan ditemukan fauna berumur kurang lebih 1960 tahun SM (sebelum masehi). Seperti dilansir dari United Nations International, Asa Koma dan Danau Abhé yang merupakan situs purbakala terbesar di Djibouti, menempati luas wilayah sekitar 2.370 hektare dan menunjukkan peradaban purba yang besar disana.

Penemuan situs purbakala ini dilakukan oleh para peneliti arkeolog sejak tahun 1800-an. Wim van Neer dan Joséphine Lésur menulis dalam jurnal internasional berjudul The ancient fish fauna from Asa Koma (Djibouti) and modern osteometric data on three Tilapiini and two Clarias catfish species terbitan tahun 2004 menyebutkan bahwa telah banyaknya perubahan yang terjadi di wilayah tersebut.

"Riset ini dilakukan di wilayah Asa Koma dan di sepanjang Danau Abhé yang dulu telah mengalami banyak perubahan akibat banjir," tulis van Neer dan Lésur.

Fokus pencarian tertuju pada isu adanya ikan purba yang masih hidup di sekitar danau Abhé. "Populasi ikan purba air tawar yang hidup di wilayah ini diperkirakan menjadi sumber makanan bagi manusia (purba) era holosen yang gemar berburu" tambahnya.

Lele dan tilapia dalam famili Siprinid merupakan spesies paling dominan di danau Abhé, yaitu sebesar 96%. Mereka diperkirakan telah ada sejak milenium ke-2 SM atau 2.000 tahun SM.

Potret temuan fosil Tilapia dan Catfish Purba yang berumur 4.000 tahun. ()

Bukti yang menguatkan para ilmuwan adalah adanya temuan super kuno berupa tembikar yang digunakan untuk keperluan memasak dan peralatan dapur lain. Diduga bahwa alat-alat ini digunakan untuk mengolah ikan-ikan air tawar manusia (purba) era holosen sebagai hidangan.

Pertanyaan tentang keberadaan ikan tilapia purba telah dibuktikan dengan ditemukannya hieroglif Mesir Kuno yang sudah berumur kurang lebih 20 abad SM. Ukuran tilapia purba yang ditemukan memiliki panjang sekitar 59 cm dengan lebar 11 cm.

Hieroglyph Ikan Tilapia sudah dibuktikan keberadaannya bahkan sejak era Mesir Kuno berkuasa di Afrika. (Urban Fish)

Proses penyelidikan oleh tim peneliti dilakukan secara musiman, yaitu saat musim penghujan tiba dengan menunggu kondisi air danau pasang. Hal itu dilakukan agar kondisi tanah dapat dilakukan penggalian juga penangkapan ikan akan jadi lebih mudah. Riset van Neer dan Lésur tidak berhenti pada spesies air di danau Abhé, tapi juga ditemukan fosil lele, tilapia, burung dan buaya purba di sepanjang tepi danau.

Namun, hasil riset yang dilakukan van Neer dan Lésur tak membuahkan hasil. Mereka tidak dapat menemukan Tilapia purba dalam kondisi hidup. Tilapia telah dianggap punah dan hanya fosil tulang belulangnya saja yang tersisa di sepanjang tepian danau. Begitu pula dengan spesies lele purba (Clarias catfish) telah berevolusi menjadi lele yang umum dijumpai di era modern. Populasinya di danau Abhé pun hanya berkisar 2% saja.