Forum Riset Vaksin Nasional II: Sinergi Tiga Pilar Membangun Kemandirian

By , Kamis, 28 Juni 2012 | 11:00 WIB

Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) kembali digelar untuk kedua kalinya tahun ini. Fokus FRVN adalah tidak lain menuju pada percepatan penelitian sesuai dengan tajuknya, Akselerasi Riset Vaksin Nasional Dalam Rangka Dekade Vaksin 2011-2020.

Konsorsium yang terbentuk pada FRVN I, Juli 2011 lalu sudah menyusun rencana mengenai sistem riset vaksin dengan strategi berkesinambungan. Konsorsium tersebut merupakan sinergi dan koordinasi di antara tiga pilar inti, yaitu pemerintah, akademisi, dan swasta.

Ini disampaikan oleh Iskandar, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), pada sambutan pembukaan FRVN II di Jakarta, Rabu (27/6). PT Bio Farma di sini adalah pihak swasta, berperan selaku industri pendukung.

Menurut Iskandar, "Bio Farma diharapkan mampu menyediakan vaksin dengan harga terjangkau untuk seluruh masyarakat Indonesia secara merata. Saat ini sudah hampir tidak ada ketergantungan penyediaan vaksin dari luar negeri."

Kepala Badan Litbang Kemenkes, Trihono, yang pada kesempatan itu mewakili Menteri Kesehatan Nafsiha Mboi mengatakan, pemerintah melalui Kemenristek dan Kemenkes sudah mencoba menyusun roadmap pengembangan vaksin melalui proses cukup panjang.

"Keterlibatan pihak akademisi atau peneliti, pemerintah, dan industri di dalamnya, bila ditingkatkan, akan mampu meneguhkan kemandirian vaksin nasional dan menciptakan vaksin masa depan," tuturnya.

FRVN II dihadiri ratusan peserta yang berasal dari Kemenristek; Kemenkes; Kemendikbud; lembaga-lembaga penelitian seperti LIPI, BPTT; Badan POM; ITAGI; jajaran Direksi PT Bio Farma; juga para peneliti bidang vaksin/bioteknologi/mikrobiologi di berbagai perguruan tinggi.

Bambang Herman Djalinus, ketua panitia penyelenggara FRVN II menekankan, prioritas saat ini selain mempercepat target pengendalian penyakit infeksi seperti HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria serta semua yang termasuk jenis Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Dibahas pula mengenai penerapan paten sesuai konsep Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

"Riset harus dilindungi. Tidak semata melindungi si inventor (penemu) sebagai individu, atau pengusaha untuk kepentingan bisnis, melainkan melindungi kreativitas makro bangsa ini. HKI amat penting, demi meningkatkan kemajuan bangsa Indonesia," ujar Direktur Jenderal HKI-Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Ahmad Ramli.

Serentetan penyakit infeksi terus menyerang masyarakat di abad ini. Antara lain ada yang baru muncul (emerging) dalam beberapa tahun belakangan, tapi ada pun yang tidak baru lagi (re-emerging). Beberapa penyakit bisa mengakibatkan sakit kronis hingga kematian, contohnya demam berdarah dengue (DBD), demam tifoid, flu burung.

Vaksin merupakan langkah pencegahan yang sangat efektif bagi banyak penyakit. Dari data Balitbang Kemenkes diketahui pemberian imunisasi telah mencegah sekitar 2,5 juta kematian per tahun, dan otomatis menurunkan angka kematian bayi/balita.