Pranata Mangsa, Metode Penangkapan Ikan Lestari

By , Senin, 13 Agustus 2012 | 15:45 WIB

Penggunaan pranata mangsa terbukti masih relevan sebagai pedoman penangkapan ikan di Samudra Hindia Selatan Jawa. Kendati begitu, dibutuhkan sejumlah penyesuaian dan perubahan dari pranata mangsa yang selama ini digunakan masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Suwarman Partosuwiryo, usai melakukan penelitiannya di tiga kawasan perairan Samudra Hindia Selatan Jawa. Yakni Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi Kabupaten Trenggalek Daerah Istimewa Jawa Timur, Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng Gunungkidul Yogyakarta, serta Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap.

Suwarman menjelaskan, pranata mangsa sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak ratusan tahun lalu. Ini merupakan bentuk kearifan lokal yang digunakan sebagai pedoman dalam mengenali musim (waktu) serta pedoman dalam kegiatan pertanian. Sebagai pengenal musim, pranata mangsa dilengkapi dengan tanda-tanda alam yang mudah dikenali masyarakat.

Dalam dunia perikanan, pranata mangsa juga digunakan nelayan untuk melaut. Biasanya mereka memanfaatkan jenis dan letak bintang sebagai pemandu arah ketika di laut. Nelayan menggunakan tanda-tanda alam seperti udara dingin, musim buah-buahan, angin kencang, serta posisi bulan untuk mendapatkan tangkapan yang banyak.

Dalam penelitian, terbukti bahwa pranata mangsa meningkatkan produksi ikan. Berdasarkan estimasi potensi sumber daya ikan di Samudra Hindia Selatan Jawa sebesar 137.697 ton per tahun, nelayan bisa mendapatkan lebih banyak lagi sekitar 281,81 hingga 5.519,80 kilogram ikan bila menggunakan pranata mangsa.

“Tak hanya produksi ikan yang bertambah, juga jumlah trip penangkapan serta pendapatan nelayan. Jumlah trip penangkapan bisa mencapai per tahunnya sebanyak 88,74 hari/kapal dan pendapatannya per tahun mencapai Rp196 jutaan/kapal,” katanya di Yogyakarta, Senin (13/8).   

Meskipun pranata mangsa telah terbukti mampu meningkatkan keuntungan nelayan, Suwarman berpandangan perlu dilakukan beberapa penyesuaian dalam pranata mangsa yang biasa digunakan.

Pertama, mangsa 2 tanda-tanda alam ditambah dengan adanya angin timur mulai kencang dan ombak besar. Kedua, mangsa 3 tanda-tanda alam ditambah dengan adanya air laut dingin. Ketiga, mangsa 4 tanda-tanda alam laut ditambah dengan arah angin dan arus laut dari barat laut ke tenggara dengan kecepatan sedang. Keempat, mangsa 5 tanda-tanda alam ditambah dengan adanya air permukaan laut mulai hangat. Kelima, mangsa 8 tanda-tanda alam ditambah dengan arus timur lemah dan ombak masih cukup besar.