Ekosistem Hutan dan Perairan Indonesia Mengkhawatirkan

By , Senin, 27 Agustus 2012 | 16:01 WIB
()

Indonesia terkenal sebagai negara megadioversity nomor dua di dunia setelah Brasil. Keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah serta karakteristik ekosistem tropis menjadi ciri khas khusus negara ini. Namun, kekayaan alam yang melimpah ini belum diimbangi kesadaran penuh untuk menjaga dan merawat lingkungan.

Dari berbagai macam ekosistem yang terdapat di Indonesia seperti ekosistem air laut, air tawar, pantai, hutan, ternyata ekosistem hutan dan perairan tengah mengkhawatirkan kondisinya. Bencana banjir, kekurangan air bersih, serta berbagai macam gangguan kesehatan yang terjadi saat ini, karena dampak ketidakseimbangan kedua ekosistem ini.

“Sebenarnya sudah sejak sekitar 10-15 tahun yang lalu, ekosistem alam di Indonesia menampakan gejala kerusakan. Kerusakan terparah hingga saat ini berada pada ekosistem hutan dan perairan Indonesia,” papar pemerhati lingkungan dari Universitas Kristen Duta Wacana, Djoko Rahardjo, di sela-sela peluncuran buku “Ecology of Insular South East Asia The Indonesian Archipelago,” di Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (27).

Ketidakseimbangan kedua ekosistem tersebut, kata Djoko, disebabkan oleh ulah manusia. Ia mencontohkan penebangan hutan yang kian meningkat, konversi hutan menjadi lahan sawit serta pemukiman. Membuang sampah di sungai, hingga pembuangan limbah industri yang tidak benar menduduki urutan tertinggi dari faktor penyebab ketidakseimbangan alam di Indonesia.

“Alam memiliki proses purifikasi atau pemurnian kembali, namun manusia  merusaknya melebihi kemampuan pemurnian alam sendiri,” katanya.

Charlie Barnwell/Corbis

Djoko mengungkapkan, sebenarnya manusia memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan sekitarnya. Namun, kesadaran tersebut masih sebatas pengetahuan saja, tanpa tindakan konkret. Meski sudah ada tindakan konkret, hasilnya masih belum maksimal.

Untuk mencapai keseimbangan ekosistem kembali, manusia wajib mengetahui prinsip-prinsip penting dalam ekologi. Di antaranya mengetahui dengan benar bahwa alam adalah  objek penyuplai oksigen, siklus hara, kemampuan degradasi.  

 “Pemurnian alam masih dapat dilakukan apalagi dengan alam Indonesia yang berada di lingkungan tropis.Dalam hal ini, tentu kita memerlukan peran pemerintah yang juga berupa tindakan, bukan hanya sekedar regulasi,” paparnya.

Friedhelm Goltenboth dari Universitas Hohenheim Stuttgart, Jerman, yang juga terlibat sebagai peneliti ekologi di Indonesia, mengatakan, masyarakat Indonesia perlu meningkatkan kesadarannya untuk merawat lingkungan. Pasalnya, kesimbangan ekosistem alam di Indonesia sudah mengalami beberapa gangguan.

“Perlu kesadaran tinggi dari masyarakat untuk paham tentang karakteristik alamnya masing-masing,” katanya.