Bahasa Daerah Perlu Terus Diajarkan

By , Rabu, 2 Januari 2013 | 10:50 WIB

Ratusan mahasiswa dan komunitas pengarang Sunda Re-Publik Saptuan, Senin (31/12), berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, menuntut agar bahasa daerah, termasuk bahasa Sunda tetap diajarkan di sekolah. Mereka khawatir, dengan diberlakukannya Kurikulum 2013, pelajaran Bahasa Sunda dihilangkan dan tidak lagi diajarkan di sekolah.

Selama ini Bahasa Sunda menjadi muatan lokal sekolah dasar di Jawa Barat. Namun, dengan Kurikulum 2013, pemerintah terkesan lebih mengutamakan bahasa asing dan mengesampingkan bahasa daerah.

Selain melakukan orasi, mereka juga melakukan pentas teater, pembacaan sajak, serta musikalisasi puisi. "Kami menuntut pelajaran bahasa daerah tetap dalam Kurikulum 2013, serta kedudukannya disejajarkan dengan mata pelajaran lain," kata Ketua Re-Publik Saptuan Hadi Aks.

Selain bahasa Sunda, mereka juga meminta agar bahasa daerah lain seperti Jawa, Bali, serta bahasa daerah lainnya tetap diajarkan di sekolah. Khusus bahasa Sunda, Re-Publik Saptuan menuntut Gubernur Jawa Barat mengeluarkan surat keputusan yang mewajibkan Bahasa Sunda menjadi mata pelajaran wajib.

Ketua Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda Universitas Padjajaran Oki Muhammad menyatakan, dalam filosofi Sunda, bahasa Sunda bukan hanya cicirien atau identitas budaya Sunda. Melainkan juga sebagai pelestari nilai-nilai tradisi yang ada di dalamnya. "Kalau bahasa daerah dihilangkan, tidak ada identitas bangsa ini," ujar Oki.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan, Kurikulum 2013 hanya mencantumkan mata pelajaran minimal. Sekolah bisa melengkapinya, sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.