Gerak Penyelamatan Suku Awa dari Pembabatan Hutan

By , Kamis, 25 April 2013 | 12:06 WIB
()

Suku Indian Awa, kelompok masyarakat asli di pedalaman hutan tropis Amazon, Brasil, masih terancam akibat penebangan hutan yang terus berlangsung. Advokasi yang ditempuh telah berakhir tanpa suatu aksi. Tenggat waktu untuk penghapusan penebangan liar di lahan mereka sudah ditetapkan pada akhir Maret lalu.

Sampai sejauh ini nampaknya tidak menghentikan sejumlah kegiatan penebangan hutan yang digugat, meski putusan pengadilan sudah berhasil dipegang.

Cakupan luas wilayah kelompok ini mencapai 1.200 kilometer persegi, tetapi saat ini sudah 30 persen tutupan hutan yang musnah dari total luas itu. Padahal Suku Awa bergantung pada hutan, mereka hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan.

Organisasi Survival International menyebut, Awa merupakan satu suku di dunia yang paling terancam, oleh sebab deforestasi yang terus-menerus membayangi hutan tempat tinggal mereka di bagian timur laut Amazon. Alice Bayer dari Survival International mengutarakan, mereka juga semakin sulit mendapatkan makanan dari hutan. "Dan kami khawatir pada nantinya mereka harus hidup dalam kebergantungan pada pemberian pemerintah," katanya.

Foto udara Amazon. (Thinkstockphoto)

Sebenarnya perlindungan hak atas tanah masyarakat adat pun tercantum dalam konstitusi Brasil.

Kini lembaga negara yang secara nasional menangani kepentingan proteksi dan budaya Indian, FUNAI, dilaporkan tengah berupaya pula, untuk mengeluarkan ribuan pembalak, pengusaha peternakan, serta lainnya, dari wilayah hutan Awa.

Survival International pun menghimpun dukungan lewat petisi untuk menyelamatkan Suku Indian Awa dari "kepunahan yang akan terjadi dalam waktu dekat".

"Belum terlalu terlambat bagi Suku Awa sekarang. Namun bisa menjadi keterlambatan bila tidak dilakukan penindakan hukum segera. Mungkin esok Suku Awa akan punah," ujar Direktur Survival International Stephen Corry dalam sebuah pernyataan.

Jumlah populasi Suku Awa diperkirakan telah semakin berkurang, hanya menyisakan 300 - 450 orang. Corry menambahkan, pemerintah Brasil diharap lebih tegas mengambil langkah-langkah penyelamatan suku ini.