Cara Lestarikan Tenun Lombok

By , Selasa, 6 Agustus 2013 | 10:45 WIB

Kegiatan para perempuan penenun membuat kain songket dengan peralatan tradisional gedogan, dapat dijumpai di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Anda dapat bertandang ke sini dan langsung mengamati proses pembuatan kain tenun dengan aksen benang perak atau emas.

Dahulu, setiap anak gadis dalam keluarga-keluarga di Sukarara diwajibkan: paling tidak membuat sehelai kain songket sebelum dibolehkan menikah. Motif yang diberikan turun-temurun mesti diingat baik-baik dan tidak boleh disebarluaskan atau diberikan kepada orang lain, kecuali masih termasuk anggota keluarga sendiri.

Konon, motif tradisional kain songket Lombok dari desa Sukarara mencapai lebih dari 100 pola. Tidak ada yang dicatat atau digambar detailnya, kecuali disimpan dalam bentuk master untuk dipelajari generasi yang akan datang.

Berbagai ornamen diselipkan ke dalam karya songket khas Lombok ini, mulai motif geometris belah ketupat sampai hewan dan tumbuhan. Sementara benang emas atau perak dianyam sedemikian rupa, hingga menghasilkan gradasi indah saat dipakai.  

Dalam perjalanannya, kain songket atau tenun Lombok mengalami pengembangan ide baik dalam soal motif maupun pengayaan bahan pembuatnya, hingga melahirkan karya nan apik dan sangat diminati para pejalan luar dan dalam negeri. 

Beberapa motif yang terkenal adalah subhanala, ceret penginang, ragi genep, wayang, merak, tapok kemalo dan taman rengganis. Melihat motif dan keindahan hasil tenun ini, dijamin Anda bakal terpikat. Jadikanlah sebagai salah satu alternatif cendera mata dari Lombok. Perkiraan harga belanja kain panjang ini antara Rp200 ribu sampai Rp3 juta per helai.