Hormon Cinta Juga Pengaruhi Hubungan Sosial

By , Minggu, 6 April 2014 | 14:00 WIB

Hormon oksitosin yang juga dikenal dengan istilah "hormon cinta" selama ini diketahui penting untuk membangun dan mempertahankan hubungan antarpasangan ataupun kasih sayang ibu dan anak. Namun ternyata, hormon ini memiliki peran yang lebih besar daripada yang dipikirkan sebelumnya.Sebuah studi baru yang dipublikasi jurnal Nature menemukan, hormon oksitosin memengaruhi interaksi sosial sehingga dapat digunakan untuk lebih mengetahui evolusi sosial manusia. Selain itu, para peneliti mengatakan, hormon tersebut juga memiliki implikasi penting pada gangguan saraf seperti autisme. Pada awal penelitian, para peneliti asal Stanford University School of Medicine mengukur kadar hormon oksitoksin hanya untuk mengetahui tingkat kepercayaan di antara dua orang. Kemudian mereka melakukan uji klinis pada anak-anak autis. Autisme diketahui merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Oleh karenanya, uji klinis pada anak autis akan menunjukkan hubungan antara kadar hormon oksitosin dan kesulitan memercayai seseorang.Para peneliti pun menemukan, kadar hormon oksitosin pada anak autis umumnya rendah. Inilah yang memicu mereka kesulitan berkomunikasi dan membangun kepercayaan terhadap orang lain.Kemudian, para peneliti pun melakukan percobaan pada tikus untuk mengetahui cara oksitosin bekerja dalam otak. Diketahui, oksitosin khususnya bekerja pada bagian otak yang penting dalam perasaan menghargai."Orang dengan autisme tidak memiliki perasaan menghargai orang lain seperti orang normal. Maka dari itu, interaksi dengan orang lain akan menyakitkan bagi mereka," ucap peneliti senior dr Robert Malenka, profesor psikiatri dan ilmu perilaku dari Stanford University School of Medicine.Malenka dan timnya pun mengklaim studi ini dapat memberikan bukti yang mendukung kesimpulan pengaruh oksitosin pada anak autis guna menciptakan pengobatan baru. Peneliti menggunakan tikus sebagai hewan uji karena adanya kemiripan struktur otak dengan manusia. Kendati begitu, mereka juga mengakui hasil uji coba pada tikus sering kali gagal saat diterapkan pada manusia.