Batik: Tinggalan Asli Bangsa Indonesia

By , Rabu, 2 Oktober 2013 | 20:45 WIB

Melacak asal usul batik relatif sulit karena informasinya masih tersembunyi pada ribuan prasasti dan naskah kuno yang belum tertangani tuntas. Namun, pakar budaya Hindia Belanda abad ke-19, JLA Brandes, berpendapat batik merupakan peninggalan asli bangsa Indonesia. Segala unsur dalam batik tidak dipengaruhi kebudayaan India, baik yang berciri Hinduisme maupun Buddhisme. Tapi pendapat ini ditentang pakar lain yakni NJ Krom. Menurut Krom, batik sudah lama dikenal di India contohnya batik yang berkembang di pantai Koromandel. Dari India lewat jalur perdagangan batik dibawa ke Indonesia. Ada pendapat lain kalau batik mulai dikenal pada abad ke-7 dan ke-8, dan berasal dari Cina. Konon, pada masa itu sejumlah kerajaan kuno di Indonesiamengirimkan misi diplomatik dan perdagangan ke Cina. Buktinya ada semacam motif batik pada keramik Cina dinasti Tang. Bahkan proses pembatikannya sama dengan batik kain. Bejana diolesi malam (sejenis lilin) dulu, kemudian dilapisi glasir. Pecahan keramik tiga warna mirip batik ini banyak ditemukan pada situs arkeologi di sekitar candi Prambanan (Satyawati Suleiman, 1986:161). Kata batik tidak ditemukan dalam bahasa Sansekerta atau Jawa Kuno. Diduga asalnya dari kata Melayu Kuno tik yang berarti titik. Kain batik memang awalnya berhias ukiran yang terdiri atas garis-garis dan titik-titik. Industri batik paling sederhana kemungkinan berkembang pada abad ke-10. Waktu itu Jawa banyak mengimpor kain putih (kain mori) dari India. Pada abad-11 sebuah prasasti menyebutkan kata cetulis yang berkonotasi menorehkan desain batik dengan canting. Seni batik membudaya pada abad ke-12 berawal di pulau Jawa, terutama di Surakarta dan Yogyakarta. Diperkirakan pada abad ke-17 batik mulai dikenal luas. Sejarah batik di Indonesia berkaitan erat dengan kerajaan Majapahit. Diteruskan di masa kerajaan Mataram hingga masa Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Awalnya menjadi bahan pakaian keluarga raja dan terbatas untuk lingkungan keraton. Selanjutnya batik terbawa keluar keraton oleh para pengikut raja dan ditiru masyarakat. Batik menjadi pekerjaan rumah tangga para wanita untuk mengisi waktu senggang. Batik semakin berkembang pada akhir abad ke-18 yang dihasilkan berupa batik tulis sampai awal abad ke-20. Batik cap baru dikenal seusai Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920. Perang Dipanagara (1825-1830) membuat batik tersebar ke berbagai wilayah. Pasukan Kiai Maja mengundurkan diri ke arah timur yang sekarang bernama Majan. Hingga kemudian batik Majan yang muncul setelah Perang Dipanagara. Keluarga raja yang mengungsi juga menyebarkan antara lain, ke Banyumas, Pekalongan, Ponorogo, dan Tulungagung. Batik juga ke luar Pulau Jawa, antara lain Sumatra Barat. Sejak zaman sebelum Perang Dunia I Sumatera Barat adalah konsumen batik produksi Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Akibat blokade pasukan Belanda, perdagangan batik menjadi lesu. Akhirnya para pedagang batik di Padang berinisiatif membuat batik sendiri. Ciri khasnya kebanyakan berwarna hitam, kuning, dan merah ungu, dengan motif Banyumasan, Indramayu, Solo, dan Yogyakarta.