Semua Benteng di Ternate Dibangun demi Cengkih

By , Selasa, 15 Oktober 2013 | 11:00 WIB

Berada di sisi timur Pulau Ternate, Maluku Utara, Benteng Tolukko berdiri kokoh. Di puncaknya, pemandangan lepas ke Laut Maluku, Pulau Tidore, dan pesisir barat Pulau Halmahera. Hilir mudik kapal di laut sempit itu tak berpenghalang ke segala penjuru mata angin.Tolukko dibangun di atas bukit yang menjorok ke laut di Kelurahan Sangaji, Kota Ternate. Tak hanya strategis untuk memantau kedatangan kapal, benteng yang dibangun Panglima Portugis Fernando Serrao pada 1540 itu juga memiliki akses untuk mengerahkan pasukan ke pantai.Semula benteng ini memiliki terowongan di bawah tanah yang langsung menuju laut. Namun, renovasi pada 1996 justru menghilangkan bentuk aslinya. ”Fondasi benteng ini dibangun oleh Portugis. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, akhirnya direbut Belanda,” kata Nurachman Irianto (Maman), ahli benteng dari Universitas Khairun, Ternate, beberapa waktu lalu.cengkih adalah alasan bangsa Barat membangun benteng pertahanan di Ternate. Benteng itu menjadi saksi betapa cengkih menjadi komoditas berharga yang dipertahankan dengan segala cara. Sebelum mereka, ada saudagar China dan Arab yang tiba di Ternate dengan alasan sama, tetapi tidak ada benteng yang dibangun.Portugis adalah bangsa Barat yang pertama menginjakkan kaki di Ternate pada 1512, setahun setelah mereka menguasai Malaka di Semenanjung Malaya. Setelah itu, Spanyol menyusul dan menapakkan jejaknya di Tidore yang dapat dicapai 20 menit dengan perahu motor dari Ternate.Di kemudian hari, Inggris dan Belanda menancapkan kaki di kepulauan rempah. Tujuannya masih demi cengkih dan mereka juga membangun benteng di sejumlah tempat.

Portugis baru membangun benteng setelah sembilan tahun di Ternate, tahun 1521, yaitu Bentang Kastela, di Kelurahan Kastela, Ternate. Benteng itu dibangun untuk menghalau Spanyol yang berusaha masuk Ternate.Spanyol mendirikan benteng di Tidore, antara lain Benteng Tahula di Soasio pada 1613 dan Benteng Cobo di Desa Cobo Doe Doe. Saat Belanda menguasai Ternate, dibangun Benteng Oranje pada 1607. ”Batu untuk pembangunan diambil dari Kastela. Lonceng gereja benteng pun diambil dan dipindahkan,” ujarnya.Kini ada delapan benteng yang masih bertahan di Ternate, yaitu Tolukko, Kalamata, Kastela, Oranje, Kota Janji, Bebe, Kota Naka, dan Takome. Jumlah asli lebih banyak. Dari catatan Belanda, ada 12 benteng di Ternate, termasuk sebuah benteng dari kayu, yaitu Benteng Kalafusa.”Kami belum tahu lokasi Benteng Kalafusa itu. Ancar-ancarnya di sekitar Tolukko,” kata Maman. Letak Benteng Talang Ame dan Benteng Brogh tidak pernah diketahui karena bekasnya tidak ada yang tersisa.Kondisi benteng yang tersisa sebagian besar memprihatinkan. Hanya Tolukko dan Kalamata yang relatif bagus.Pemerintah berupaya memugar benteng itu. Namun, hal itu justru dikeluhkan sejarawan dan pencinta benda cagar budaya di Ternate karena pemugaran dinilai dilakukan serampangan hingga nilai historisnya hilang.”Pasca-pemugaran, bentuk Benteng Kastela dan Oranje malah jadi aneh. Bahkan, Kastela pernah roboh seusai dipugar sebab pemugarannya tak sesuai kaidah,” ujar Maman.

Pasca-pemugaran, Benteng Kastela dilengkapi taman dan jalan melingkar dari batu blok. Di Benteng Kota Janji ada taman plus lantai batu blok dikelilingi pagar besi serta pintu gerbang yang tak serasi dengan benteng. Akibatnya, benteng pertahanan menjadi mirip taman bermain.Benteng Oranje yang semula berupa batu gunung yang direkatkan dengan kalero (batu karang yang dipanaskan) justru diplester dengan campuran semen. Lantai benteng yang semula berupa batu bata merah diganti batu kali dan batu gunung yang dipipihkan.