Permintaan Sirip Hiu Naik, Pembunuhan Lumba-Lumba Meningkat

By , Senin, 21 Oktober 2013 | 10:30 WIB
()

Peru berhasil mendongkrak penjualan sirip ikan hiu mereka ke Asia secara dramatis. Ini memicu meningkatnya pembunuhan terhadap ikan lumba-lumba yang dijadikan umpan bagi hiu.

Di banyak negara Asia, sirip ikan hiu merupakan makanan lezat dan sering dihidangkan sebagai sup di restoran Cina kelas atas. Sebagian besar ekspor sirip ikan hiu Peru, yang meningkat sepuluh persen dalam beberapa tahun terakhir, adalah ke Jepang, Hong Kong, Singapura, dan beberapa negara Asia lainnya.

"Meski sirip ikan hiu diperkenankan jika sesuai aturan, sejumlah nelayan melakukan aktivitas kriminal dengan melakukan penangkapan secara ilegal dan harus dihukum," kata Paul Phompiu, Deputi Menteri Perikanan Peru.

"Kami kecewa dengan kondisi ini. Peru mengecam penangkapan hiu dan lumba-lumba ilegal karena mereka spesies dilindungi," ucapnya.

(Lihat: Indonesia, Salah Satu Pemburu Hiu Terbesar di Dunia)

Pekan lalu, Mundo Azul, kelompok penyayang binatang menyebutkan, 15 ribu ekor lumba-lumba dibunuh per tahun di Peru dan daging mereka digunakan sebagai umpan untuk menangkap hiu.

Lebih dari 545 kapal pemburu dikerahkan untuk melakukan pemancingan lumba-lumba seperti ini di sepanjang pesisir Peru, menggelar setidaknya enam pelayaran per tahun dan membunuh hingga enam ekor lumba-lumba setiap perjalanan. Sayangnya, hanya 72 kapal penangkap yang memiliki izin.

(thinkstockphoto)

Menurut Phompiu, menghentikan pembantaian lumba-lumba perlu dimulai dari mengatasi akar permasalahannya yakni mengontrol komersialisasi sirip ikan hiu yang juga dianggap sebagai obat perangsang.

Untuk itu, kata Phompiu, Peru telah meluncurkan gerakan nasional yang ditujukan untuk menghukum berat pelanggaran terkait ikan hiu.

Di antara langkah-langkah yang akan diambil adalah pelarangan sementara terhadap penangkapan dan komersialisasi hiu yang dianggap sebagai pemicu penangkapan besar-besaran terhadap lumba-lumba. "Dalam kasus tertentu, Peru akan mengeluarkan pelarangan terhadap penangkapan lumba-lumba dan hiu," ucap Phompiu. (Simak juga: Jakarta Ikut Serta Lindungi Hiu)

Menurut rencana, Sea Institute akan mengidentifikasi kawasan-kawasan mana saja yang dieksploitasi dan karakteristik kapal penangkap ikan. Selain itu, lembaga tersebut juga akan mengidentifikasi kawasan di mana hewan tersebut beranak-pinak.

Selain lumba-lumba, mackarel dan cumi-cumi juga digunakan untuk memancing hiu. Namun para nelayan lebih memilih daging lumba-lumba karena bau darahnya yang menyengat dan sangat menarik bagi ikan hiu.