Banda, Jejak Kota Kosmopolitan di Pulau Pala

By , Minggu, 27 Oktober 2013 | 15:00 WIB

BANDA, gugusan pulau di tenggara Kota Ambon, Provinsi Maluku, hingga akhir abad ke-18 merupakan kawasan metropolitan yang memesona. Tanah surga ini memainkan peran penting dalam percaturan politik dan ekonomi internasional. Pelbagai suku bangsa asing dan Nusantara pun berbaur di dalamnya. Oleh pala, mereka ”dipertemukan” di negeri rempah-rempah.Sejak awal abad ke-12, Banda telah masyhur sebagai wilayah penghasil pala. Kabar ini awalnya disebarkan para pedagang Melayu, Arab, Persia, dan China. Mereka yang pertama membeli pala dari Banda, yang kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istanbul) di wilayah Turki saat ini.Biji pala saat itu memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan perak, bahkan emas. Rempah yang pada zaman dulu sangat langka, dicari banyak orang karena dipercaya berkhasiat, pemberi rasa, bahan pengawet yang baik sehingga mampu mengobati banyak penyakit. Ditambah lagi, rempah-rempah saat itu tidak tumbuh di wilayah Eropa. Bahkan, awal abad ke-17, harga pala yang dibeli dengan sangat murah di Banda dapat dijual di Eropa dengan harga 600 kali lipat.Hal itu yang mendorong orang-orang Eropa berlomba- lomba mencari daerah penghasil rempah-rempah. Sejalan dengan dogma Gold, Glory, Gospel alias kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama.Dalam Kepulauan Banda: Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala (1983), Willard A Hanna menyebutkan, kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Banda juga disebabkan jatuhnya Konstantinopel dari kekuasaan Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) ke tangan Kesultanan Utsmaniyah (Kekaisaran Turki Ottoman) pada tahun 1453. Akibatnya, jalur perdagangan pala terputus dan memaksa pelaut- pedagang Eropa mencari sendiri melalui jalur laut.Laksamana Portugis Afonso de Albuquerque adalah penjajah Eropa pertama yang menaklukkan pelabuhan dagang Malaka di Semenanjung Malaya dari Sultan Mahmud pada 1511. Ia mengutus ekspedisi yang dipimpin D’Abreau untuk berlayar ke Maluku. Konon, saat para pelaut Portugis masih berjarak 15 kilometer dari daratan Banda, mereka sudah mencium bau harum pala.Begitu tiba di daratan Banda, pelaut Portugis mengisi kapal dengan biji dan buah pala. Mereka kemudian menjualnya ke Sevilla, kota dagang di semenanjung Iberia, Eropa selatan, atau Spanyol saat ini. Mereka pun menjadi kaya raya.

Sejak saat itu, Portugis menguasai Banda, hingga armada Belanda yang dipimpin Laksamana Muda Jacob van Heemskerk berlabuh di Pulau Banda Besar (Lonthoir) pada awal abad ke-17. Hampir bersamaan, tahun 1601, armada dagang Inggris di bawah komando Kapten James Lancester membuat pangkalan di Pulau Run dan Pulau Ai setelah menempuh perjalanan laut dari Banten.Lebih strategisMochtar Tawid (58), salah seorang tokoh masyarakat Banda, menuturkan, saat itu, Belanda bahkan menilai Banda lebih strategis ketimbang Batavia (Jakarta). Pada saat Belanda dan Inggris berseteru memperluas wilayah kolonialnya, Batavia dikorbankan menjadi sasaran penyerbuan. Namun, pada saat yang sama, Banda Neira dijadikan pusat pertahanan dan permukiman gubernur jenderal Hindia Belanda pada abad ke-17.Selain itu, Banda Neira juga pernah berkedudukan sebagai ibu kota provinsi (Government van Banda) dengan wilayah meliputi Pulau Seram bagian timur, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar. Pada abad ke-19, statusnya dijadikan setingkat kabupaten dan dipimpin seorang residen.Setelah mendirikan Benteng Nassau (1609) di tepi pantai dan Benteng Belgica (1617) di perbukitan Pulau Neira, Belanda sungguh-sungguh berniat membangun Banda menjadi sebuah permukiman modern. Hingga kini, jejak-jejak itu masih dapat dijumpai di Banda Neira, kota kecil di Pulau Neira.Gedung pemerintahan dan rumah gubernur jenderal Hindia Belanda berdiri megah persis berhadapan dengan pantai yang dulu merupakan dermaga dagang. Di dekat gedung tersebut terdapat beberapa rumah besar yang merupakan kantor para pengontrol perdagangan pala.Kendati kini mulai mengusam, masih terlihat bahwa gedung-gedung itu dibangun dengan lempengan ubin dari batu granit dan marmer. Gedung-gedung itu berhiaskan pilar-pilar raksasa serta pintu dan jendela dengan daun penutup yang megah.Di dekat tempat tinggal gubernur jenderal Hindia Belanda, masih di tepi pantai, terdapat sebuah gedung mewah. Menurut Rizal Bahalwan, pegiat wisata Banda, gedung tersebut pada masa kolonial adalah Harmonie Club, sebuah ruang pertemuan dan seni. Pada masa silam, Harmonie Club merupakan tempat pegawai sipil, perwira militer, perkenier (juragan perkebunan pala berlisensi), dan ”noni-noni” Belanda minum bols (minuman keras) di senja hari, bermain kartu, atau sekadar bersosialisasi.Gedung pertemuan semacam itu juga dijumpai di beberapa pusat kolonial, seperti Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta dengan nama Societed Club. ”Saat-saat khusus, juga digelar pesta dansa, pertunjukan musik, atau sandiwara oleh para artis,” kata Rizal.

Antara areal bisnis dan pemerintahan di tepi pantai dengan permukiman di tengah Pulau Neira dihubungkan dengan jalan batu dengan naungan pohon-pohon besar di tepinya. Rumah-rumah berarsitektur Eropa itu dulu kebanyakan milik para perkenier pala.Bahkan, di Pulau Neira yang luasnya hanya 19 kilometer persegi, lanjut Rizal, pada zaman kolonial hingga Jepang memiliki sekolah serta layanan kesehatan setara rumah sakit. Willard Hanna, peneliti Amerika yang menulis sejumlah buku tentang kepulauan ini, menjuluki Banda sebagai ”een Europeeshe Staad in Zuid-Oost Azie” atau maket kota kecil Eropa di Asia Tenggara.PembauranTak hanya permukiman, para penghuni Banda Neira juga menunjukkan ciri-ciri pembauran ras ala metropolitan. Mereka tidak seperti rata-rata orang asli Maluku yang berkulit hitam dan berambut ikal. Paras perempuan Banda sangat beragam, mirip warga keturunan Indo-Eropa, Arab, atau China.Menurut Mochtar, mereka keturunan orang-orang Portugis, Inggris, Belanda, Arab, China, hingga Jepang yang kawin-mawin dengan warga lokal. Meski sejak pertengahan 1621 sebenarnya penduduk asli Pulau Banda sudah tidak ada lagi.Itu terjadi setelah pembantaian 44 orang kaya (kaum terpandang di Banda) pada Mei tahun itu oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang terkenal kejam. Kekejiannya memaksa 90 persen orang Banda melarikan diri ke pulau-pulau lain, seperti Seram, Kei Besar (di wilayah Banda Eli), dan Buru.Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang kesulitan mencari pekerja perkebunan pala kemudian mendatangkan pekerja dari sejumlah suku Nusantara, mulai dari Jawa, Betawi, Buton, Makassar, hingga Bali.”Mereka inilah yang kawin- mawin, juga dengan orang-orang Eropa yang sudah menetap di Banda dan menurunkan etnik Banda sekarang,” ujar Mochtar.

Pantaslah kiranya proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Mohammad Hatta, yang pernah mendiami pulau ini pada masa pembuangan Belanda menyebut Banda dan masyarakatnya sebagai miniatur Indonesia. Ironis, kala secara administratif semua wilayah yang dulu menjadi bagian dari Banda kini telah menjadi kabupaten baru dan makin berkembang maju, Banda justru masih berstatus sebagai kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah.Wilayah Seram bagian timur kini menjadi Kabupaten Seram Bagian Timur. Di Kepulauan Kei terdapat Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual. Sementara itu, di Kepulauan Tanimbar terdapat Kabupaten Maluku Tenggara Barat, serta pulau-pulau di antara Kepulauan Tanimbar dan Pulau Timor terdapat Kabupaten Maluku Barat Daya. Adapun di Kepulauan Aru berdiri Kabupaten Kepulauan Aru.Banda Neira yang dulu menjadi kota kosmopolitan berspektrum internasional itu kini justru makin ditinggalkan. Tak terkecuali pala, komoditas primadona perdagangan dunia yang telah mempertemukan aneka suku bangsa Nusantara dan dunia di Kepulauan Banda.