Ingin Hidup Sehat? Bersosialisasilah

By , Sabtu, 7 Desember 2013 | 07:11 WIB

Dalam buku Age Smart  karangan Jeffrey Rosensweig, PH.D, Betty Lu, ada cerita tentang pentingnya hubungan seseorang dengan orang lain  dalam kehidupan, kesehatan manusia. Ceritanya kira-kira begini. Di Eropa, suatu ketika di rumah penitipan yatim piatu, dokter dan perawat sangat heran karena dalam beberapa bulan ini semua bayi yang ada di dalam ruangan itu sering menangis sepanjang malam, kecuali seorang bayi.Tidak hanya bayi yang satu itu, tetapi setiap bayi yang ada dalam tempat tidur yang sama, jadi, walaupun bayi itu berganti, bayi yang ada dalam tempat tidur yang sama, tetap tidak menangis, tidak seperti bayi-bayi lainnya. Melihat hal itu, sang dokter berusaha mencari kemungkinan apa penyebabnya.Tidak berapa lama kemudian, diketahui bahwa setiap pagi hari seorang perempuan yang menjaga kebersihan ruangan, sebelum masuk ke ruangan, yang pertama kali dia lakukan adalah mengambil, menimang, memeluk bayi yang ada dalam tempat tidur bayi yang sama. Bayi yang membuat dokter dan perawatnya heran, dan ingin tahu mengapa setiap bayi yang ada di dalam tempat tidur itu, selalu tidur nyenyak sepanjang malam. “Hmm.. baru Saya mengerti, mengapa bayi yang ada di sana”, bisik dokter yang merawatnya.Seperti bayi di atas, karena sentuhan, pelukan, hubungan yang didapatkannya dari orang lain membuat dia lebih tenang,  bisa tidur lebih nyenyak. Kita sebagai manusia pada dasarnya juga begitu. Manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia perlu orang lain. Mulai dari saat kelahiran saja, manusia itu membutuhkan orang lain di sekitarnya. Semakin tua seseorang, keberadaan, hubungan-hubungan itu semakin dibutuhkan. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa hidup memyendiri, terisolasi secara sosial, sama buruk efek nya dibandingkan kebiasaan merokok, makanan tidak sehat, obesitas.Penelitian pada suku-suku yang terkenal dengan banyaknya jumlah penduduknya yang berusia di atas 100 tahun, atau dikenal dengan istilah centenarian seperti suku Hunza di Pakistan, Okinawa di Jepang, Vilcabamba di pegunungan  equador, dan Abkhasia di kaukasus, hubungan, ikatan sosial yang kuat, tidak hanya dalam keluarga besar, tetapi juga dengan tetangga dan masyarakat luas merupakan ciri khas kehidupan mereka.Di Abkhasia misalnya, kesejahteraan seseorang bukan dinilai dari banyaknya uang yang mereka miliki, tetapi dari jumlah dan kualitas hubungan sosial yang mereka jaga. Kesuksesan seseorang tidak terletak pada jumlah rekening mereka di bank, tanah atau harta lain yang mereka miliki, tetapi dari banyaknya hubungan, teman, keluarga, dan tamu yang berkunjung dan menginap di Rumah mereka.Banyak penelitian yang terkait dengan pengaruh hubungan sosial, teman, dukungan kelompok terhadap proses penyembuhan, dan bahkan harapan hidup seseorang. Sudah lebih dari 20 tahun saya sebagai internist, pengalaman di bangsal dalam merawat pasien, menunjukkan pentingnya interaksi sosial ini. Pasien yang sering mendapatkan kunjungan dari temannya, dukungan kuat dari keluarganya, saya lihat proses penyembuhannya lebih cepat, angka pulang paksanya lebih rendah, mereka tidak banyak mengeluh,  dan barangkali angka kematiannya juga lebih kecil.Penelitian yang dilakukan pada 86 wanita pasien kanker payudara yang sudah mengalami metastase, yang menerima terapi yang sama, tetapi satu kelompok, disamping itu juga mendapatkan dukungan pertemuan grup sekali dalam seminggu.Ternyata, mereka yang mendapatkan dukungan grup ini mempunyai rata-rata harapan hidup 2 kali lebih lama dari kelompok yang tidak, hanya mendapatkan terapi seperti biasa.  Tidak hanya itu, mereka yang aktif menghadiri pertemuan kelompok juga lebih baik kualitas hidupnya, dan lebih bahagia.Suatu riset para ahli dari Brigham Young University menunjukkan, mereka yang mempunyai hubungan erat dengan keluarga, teman, dan kelompok kerjanya mempunyai risiko kematian 50 persen lebih kecil dalam periode tertentu dibandingkan dengan kelompok yang hubungannya lebih lemah. Ini artinya anda mempunyai harapan hidup lebih lama.Lalu, apa sebabnya hubungan sosial yang positif mempunyai pengaruh terhadap kesehatan seseorang, bahkan harapan hidupnya? Jawabannya sangat sederhana sekali. Coba anda berkumpul dengan teman-teman anda. Barangkali sudah puluhan tidak ketemu, kemudian melaksanakan reuni. Apa yang anda rasakan ketika berada di tengah-tengah mereka ? Pasti anda akan banyak ketawa, bercengkrama, senang, gembira, bahagia. Dan, andaikan anda punya masalah, stres waktu itu, stres itu pun akan hilang. Maka, salah satu pengaruh hubungan sosial yang positip adalah membantu anda  mengelola stres.Hubungan yang baik dengan anak, pasangan anda, keluarga besar, teman, tetangga dan bahkan siapa-pun juga dapat menekan hormon kortisol yang tinggi pada saat Anda stres. Seperti diketahui hormon kortisol ini, yang  dikenal sebagai hormon stress yang membuat jantung anda berdebar cepat, tekanan darah anda naik, keringat dingin bercucuran, otot-otot menjadi tegang, dan anda  bisa tidak tidur sepanjang malam.Hubungan sosial yang positif juga mempengaruhi gaya hidup, perilaku seseorang. Andaikan anda berhubungan baik dengan seseorang yang sehat, anda juga akan ketularan dengan kebiasaan sehat yang dia lakukan. Anda mungkin termotivasi untuk olahraga, makan yang sehat, tidak merokok  tidak minum alkohol,  tidur lebih nyenyak,  dan sebagainya.Dukungan positif saat anda jatuh sakit, membantu memberikan obat, menyuapi, mengambilkan air minum, mengupaskan buah-buahan, membimbing ke belakang, memijet kepala, bahu anda yang sakit, pasti mempunyai pengaruh positif terhadap penyembuhan anda. Keberadaan orang lain yang bersahabat, yang penuh kasih sayang di sekitar anda membuat anda lebih percaya diri, berpikir positif, dan bersemangat. Bila anda aktif dalam kelompok senam jantung sehat misalnya, selain anda mendapat manfaat dari aktivitas senam itu, kegiatan lain yang terkait juga akan anda peroleh.Karena itu, untuk tetap sehat, selain aktivitas olahraga, memilih makanan yang sehat, berhenti  merokok, menjauhi alkohol, hubungan sosial yang erat yang anda jalin juga sangat menentukan. Ini adalah cara baru untuk sehat, kata beberapa penulis. Maka, aktiflah berinteraksi, tidak hanya terbatas dalam keluarga inti anda, tetapi lingkungan di sekitar anda, tempat kerja dan teman-teman Anda. Saya yakin, siapapun yang aktif, sering bersilaturrahim akan lebih sehat.