Teluk Kao Tercemar Limbah Tambang, Belasan Warga Idap Penyakit Aneh

By , Rabu, 11 Desember 2013 | 11:11 WIB
()

Teluk Kao, di Halmahera Utara, Maluku Utara, tercemar karena limbah tambang emas PT Nusa Halmahera Mineral (NHM), bukan cerita baru.

Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2010 menemukan beberapa jenis ikan dan biota laut terkontaminasi bahan berbahaya seperti sianida dan merkuri. Kandungan sianida di tubuh kakap merah, belanak, dan udang di Tanjung Taolas dan Tanjung Akesone sudah melebihi ambang batas aman, hingga sangat membahayakan jika dikonsumsi.

Kini, dampak pencemaran diduga mulai mengenai warga juga. Warga terus mengkonsumsi ikan-ikan di sana, bahkan sebagian masih menggunakan air yang tercemar untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci. Belasan warga Desa Balisosang mulai mengalami penyakit benjol-benjol di sekujur tubuh.

Masri Anwar, Kepala Biro Advokasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara, mengatakan, berdasarkan data mereka, warga yang terkena penyakit benjol-benjol sekitar 13 orang. Penyakit ini makin parah, namun belum ditanggulangi oleh petugas kesehatan. “Penyakit ini hampir menjalar ke separuh dari tubuh mereka,” katanya dalam rilis kepada media, di Malut, Selasa (10/12).

Dari penelusuran AMAN, menurut  warga, penyakit ini muncul setelah mereka mengkonsumsi ikan dari Teluk Kao dan mengambil kerang dari Sungai Kobok. Pipa limbah NHM sering jebol dan limbah mengalir ke Sungai Kobok sampai ke Teluk Kao.

Sungai Kobok yang sudah tercemar dari aliran limbah NHM. (Foto: AMAN Malut)

“Mereka sering menggunakan air Sungai Kobok dan Ake Tabobo, padahal sungai itu diduga tercemar limbah perusahaan. Kami juga memperkirakan penderita penyakit seperti ini lebih dari 13 orang dan akan terus meningkat,” ucap Masri.

Dia mengatakan, masyarakat gelisah dan tak bisa berbuat apa-apa. Mereka nekat mengonsumsi ikan dari Teluk Kao karena tak ada tempat lain untuk memperoleh ikan. Sarah Robo, warga Balisosang mengatakan, mulai menderita penyakit benjol-benjol tahun 2012. Dia sering menggunakan air dari Sungai Kobok dan baru tahu kalau sungai itu tercemar setelah mendapat sosialisasi dari NHM 2013.

AMAN memperkirakan,  sekitar 5.000 jiwa masyarakat adat Hoana Pagu dan masyarakat lokal berada di sekitar tambang NHM akan mengalami gangguan kesehatan. “Karena perusahan mencemari kawasan yang menjadi sumber penghidupan warga adat. Kasus ini tidak pernah menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah,” kata Masri.

Untuk itu, AMAN mendesak segera ada tindakan untuk menyelamatkan Teluk Kao. Pemerintah, harus memberikan hukuman dan tak lagi melanjutkan izin Kontrak Karya NHM karena banyak mendatangkan masalah kepada masyarakat dan lingkungan. “Juga harus audit lingkungan atas dugaan pencemaran lingkungan ini.”

Tahun 2016, izin Kontrak Karya NHM akan berakhir. “AMAN mendesak pemerintah tidak lagi memberikan izin baru kepada NHM. Perusahaan ini harus segera angkat kaki.”Miskin di atas tumpukan emas

 Sejak perusahaan hadir, tak hanya krisis air bersih, sungai dan teluk tercemar, tetapi masyarakat mulai kehilangan sumber ekonomi. Air tercemar, ekosistem pun rusak. Tak pelak ikan teri yang menjadi andalan nelayan, kini lenyap. Bukan itu saja, satwa buruan pun mulai sulit. Tanah adat Hoana Pagu, Malifut, Halmahera Utara pun dikuasai perusahaan.

Sumber kehidupan masyarakat hilang menyebabkan mereka mencari alternatif lain. Ada yang menjadi penambang batu, sebagian lagi penambang emas di lokasi perusahaan. Mereka harus mencari uang buat kehidupan keluarga dan anak-anak sekolah. Melaut yang dulu primadona, kini tidak lagi. Mereka harus mengeluarkan uang ratusan ribu satu kali melaut, namun hasil tangkapan hanya cukup buat makan.

Frangkin Namotemo, Kades Balisosang mengatakan, sejak ada NHM, mereka makin sulit mengambil kerang dan ikan di Sungai Kobok. Bahkan, tanaman di sekitar sungai tidak lagi produktif.

Masri mengatakan, masyarakat adat Pagu makin kesulitan mengakses sumber-sumber penghidupan mereka. Dulu, mereka mudah berburu babi dan rusa. “Namun kini, warga harus berbulan-bulan di hutan baru bisa dapat hewan yang mereka cari.”

Dulu, warga juga mudah mendapatkan udang di Teluk Kao. Mereka membuat udang menjadi terasi lalu dijual. Kini, udang sulit didapat. “Warga makin miskin dan kesulitan air bersih. Mereka yang berkebun di seputaran Sungai Kobok sering mengalami gagal panen. Hasil perkebunan tidak lagi seperti dulu.”Menurut Masri, masyarakat adat Pagu hidup miskin di atas tumpukan emas. “Wilayah mereka kaya emas, justru hidup mereka makin susah. Kekayaan diambil pihak lain lalu meninggalkan masalah.”