Bandung Dapat Hibah Biodigester

By , Sabtu, 22 Februari 2014 | 06:43 WIB

Pemerintah Kota Bandung mendapatkan hibah perangkat Biodigester raksasa dari Asian Development Bank (ADB) sebagai percontohan. Rencananya, dalam 1-2 bulan mendatang, perangkat ini sudah terbangun di Pasar Gedebage.

Biodigester sendiri merupakan perangkat yang memanfaatkan sampah organik rumah tanga yang kemudian diproses untuk jadi gas metan dan pupuk cair. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan Biodigester bisa menjadi solusi pengurangan sampah rumah tangga

"Hibah sudah fiks, akan diberikan kepada Kota Bandung. Suratnya sudah saya tandatangani. Tanahnya milik kita, sedangkan dana dari ADB melalui Kementerian Lingkungan Hidup," ujar Ridwan saat ditemui seusai nonton bareng Kick Off Bandung Clean Action di Paris Van Java, Jumat (21/2).Ridwan berharap Biodigester dalam ukuran kecil bisa ada di setiap RT. Namun dengan biaya Rp 10 juta untuk setiap Biodigester kecil, maka butuh dana sekitar Rp 100 miliar untuk mengadakan 1 di setiap RT. 

"Ini tidak mudah, maka tadi sudah saya rapatkan, kami bagi-bagi tugas untuk pendanaan. Sebagian mungkin dari APBD, APBN, dan CSR. Kementerian Lingkungan Hidup, kemarin saat rapat, mengatakan sudah mau mendukung gerakan kurangi sampah dengan Biodigester," tutur Ridwan. Tak perlu sulit memasok Biodigester, karena Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung bisa membuatnya. 

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, Eric M Attauriq, mengatakan untuk pengadaan Biodigester, daerah Cibangkong sudah mendapat enam bantuan perangkat tersebut dari PT Surveyor Indonesia. Sesuai instruksi Wali Kota, pihaknya akan membuat konsep gerakan zero waste dalam sebulan. 

Wali Kota ingin membuat gerakan zero waste atau pengurangan produksi sampah. Agar gerakan ini berhasil, akan ada reward atau penghargaan bagi rumah tangga maupun tempat usaha yang aktif mengikuti gerakan ini. 

"Kami diberikan waktu sebulan membuat konsep gerakan zero waste. Upaya ini dilakukan bersama dengan relawan dan komunitas untuk membuat roadmap. Ini juga sambil membuat rencana strategi BPLH," kata Eric. 

Eric optimistis gerakan zero waste akan berhasil, sepanjang didukung dari berbagai pihak, termasuk masyarakat. "Kami lakukan secara bottom up. Dari yang terkecil dulu, seperti kawasan RT, RW dan seterusnya," ujarnya. 

Di Kelurahan/Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, pihak kelurahan mulai menangani gundukan sampah liar yang sudah terjadi sejak tahun lalu. Lurah Baleendah, Eko Haryanto menuturkan, ada sebelas titik TPS liar di Kelurahan Baleendah. Kesadaran masyarakat yang minim menjadi salah satu penyebab munculnya TPS liar. Untuk memberi efek jera bagi warga yang membuang sampah ke TPS liar, pihaknya langsung memberikan teguran di tempat. 

"Cara ini (teguran) diharapkan bisa menjadi efek jera bagi masyarakat. Bagi yang ketahuan membuang sampah kami langsung meminta identitas yang bersangkutan. Pada hari Kamis ada 15 warga yang sudah kami tegur saat membuang sampah ke TPS liar," ujar Eko disela kegiatan penertiban TPS liar, Kamis (20/2) malam.