Harapan Baru Buat Memo, Si Kera Besar

By , Kamis, 27 Februari 2014 | 16:20 WIB
()

Memo tampak semringah. Dia berayun-ayun di rumah pohonnya. Bergelantungan pada seutas tali yang terikat di antara dua pohon, menyeberang kesana-kemari. Setelah beberapa waktu dia duduk termenung di atas rumah pohonnya. Barangkali dia lelah.Orang utan betina itu usianya baru delapan tahun. Bulunya merah kecokelat-cokelatan. Satwa ini merupakan kera besar, dan di seantero dunia hanya terdapat di kawasan hutan Sumatra dan Kalimantan. Dia memegang sisa kulit buah nangka, lalu melambungkan ke arah saya. Saya menghindar. Kemudian, entah dari mana asalnya, dia melambungkan bekas botol susu plastik ke arah saya lagi. Kali ini lemparannya nyaris mengenai saya. Tampaknya Memo sedang bercanda dan mengajak bermain. Dia menghuni kandang terbuka sendirian di Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda (KRUS). Dia hidup terpisah dengan teman-temannya.

“Mereka dipisahkan berdasarkan umurnya,” ujar Sudirman, Sekretaris Unit Pelaksana Teknik KRUS. “Kalau digabungkan porsi makannya akan banyak dimakan oleh orang utan yang lebih besar.” KRUS memperlakukan mereka dalam kandang terbuka supaya terbiasa dengan kehidupan alam liar. Pelepasliaran orang utan tidak memandang usianya, namun tergantung kesiapan orang utan tadi. "Tujuan kita memelihara orang utan supaya tidak punah," ujar Sudirman. "Jangan sampai saat kita lepas, dia mati akrena tidak bisa makan." 

Memo, satu-satunya orang utan betina berusia delapan tahun yang diambil KRUS dari tangan warga Makroman, Kalimantan Timur. Memo terjangkit virus Hepatitis B akibat kontak dengan manusia. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

Tampak tetangga sebelah kandang terbuka Memo, Untung, sedang bergumul bersama Pimpong, Uci, dan Michelle. Di kandang terbuka sebelahnya lagi Herkules berlagak jadi ‘pemimpin pergerakan’ yang tengah berbaring santai, sementara Antak, Oki, dan Nigel bermain-main di sebelahnya. Tahun kemarin, berbekal kayu yang bersandar di dinding, Herkules berkali-kali berhasil mengajak teman-temannya untuk keluar dari kandang terbuka mereka.  

Mereka terdiri atas tujuh jantan dan empat betina. “Satu orang utan kekuatannya setara dengan enam binaragawan,” ujar Sudirman.

Namun, tidak semua penghuninya berada di kandang terbuka. Ambon dan Debbie, sepasang orang utan tertua di KRUS, hidup di kandang jeruji sempit—membuat trenyuh bagi siapa saja yang menyaksikan mereka.

Kera-kera besar itu berasal dari rimba belantara Kalimantan Timur—yang barangkali karena induknya melarikan diri atau tewas—kemudian ditangkap dan dipelihara oleh warga sebelum akhirnya diserahkan kepada KRUS. “Warga sukarela membawa orang utan ke sini,” ujar Sudirman. “Namun, khusus untuk Memo diambil dari masyarakat di Makroman.”

Malangnya, Memo dan Untung merupakan orang utan penderita Hepatitis B. Si Memo terjangkit virus tersebut akibat kontak dengan manusia, sementara Untung mengidapnya dari alam. Untuk alasan ini, Sudirman acap kali mengingatkan bahwa sebaiknya pengunjung KRUS tidak memberi makan atau kontak langsung langsung dengan orang utan.

“Orang utan punya kromosom hanya beda tiga persen dengan kromosom manusia,” ungkap Sudirman, sehingga memudahkan terjangkitnya penyakit di anatara mereka. “Petugas yang merawat mereka telah divaksin—untuk memperoleh kekebalan.”

Biaya hidup dan perawatan sebelas orang utan, demikian ungkap Sudirman, mencapai Rp 290.000 dalam seharinya. Selama ini soal pendanaan, KRUS bekerja sama dengan Centre for Orangutan Protection. Kabar baiknya, sehari setelah perayaan Valentine, 15 Februari 2014, Memo boleh  mempunyai kehidupan yang lebih baik dalam hal pakan dan kesehatan.

Sejak hari itu Memo menjadi “anak angkat” Toyota Astra Motor dalam program adopsi orang utan. “Populasi orang utan sekarang semakin menurun,” ungkap Michelle Supatra, perwakilan dari Tim Avanzanation Journey-Toyota Astra Motor. “Kami merasa bertanggung jawab dan ingin memberikan bantuan donasi kepada orang utan di Samarinda.”