Pertautan Ekonomi dengan Lingkungan

By , Rabu, 26 Maret 2014 | 08:27 WIB
()

Haji Sudin menyingkap pintu penutup kumbung tempat budidaya jamur merang. Ruangan dengan rak-rak yang bertabur jamur putih ini berhawa hangat. "Jamur itu seperti bayi," ujar Sudin, "kalau terlalu panas, tidak bisa tumbuh. Kurang lembab juga bisa mati."

Deretan kumbung tersebut tertata rapi di kampung jamur merang terpadu Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sentosa, Desa Sukamulya, Cilamaya Kulon, Karawang, Jawa Barat. Dengan anggota sembilan orang, kumbung-kumbung itu menghasilkan jamur merang secara rutin.

Hasilnya, bisa menambah pendapatan per bulan bagi anggota KUB. Sebelum membudidayakan jamur, Sudin yang bekerja sebagai petani ini hanya memperoleh penghasilan dari bercocok tanam. "Panen hanya dua kali setahun."

Untuk setiap kali panen, Sudin memerlukan waktu 40 hari. "Dua puluh hari penyiapan bahan tempat tumbuh, dua puluh hari panen."

Bahan-bahan tempat tumbuh juga banyak tersedia di Sukamulya: jerami padi. Setelah panen, jerami dibeli dari petani, lantas dikompos. Setelah siap, dimasukkan dalam rak-rak di kumbung. "Lalu disterilkan agar jamur bisa tumbuh. Setelah itu, benih jamur ditebar," jelas Sudin yang juga bendahara KUB ini.

Harga satu kilogram jamur merang kelas super senilai Rp 23.000 sedangkan yang baru mekar atau BS hanya Rp 12.000. Bila bahan disiapkan dengan baik, sekali panen bisa memperoleh hasil 2 kwintal. Pembeli tinggal datang mengambil dan memasarkan ke tempat lain. "Rata-rata dapat Rp 3 juta sekali panen. Untuk operasional budidaya jamur, kira-kira perlu biaya Rp 1 juta."

Nah, jamur kelas dua ini lantas diolah untuk menjadi makanan: mi ayam rasa jamur, roti isi jamur, bolu isi jamur.

Para ibu mengolah jamur ini, yang lantas dipasarkan ke lingkungan sekitar. "Kalau ada pesanan partai besar, kita kerjakan bersama-sama," jelas Rukaya, ketua Kelompok Mawar. Sebagian makanan olahan jamur ini juga dijual di warung Nadia Mawar, yang berada di seberang koloni kumbung jamur.

Budidaya jamur merang yang berlangsung sejak 2012 ini punya manfaat lain. Jerami yang dulu hanya dibakar, kini bernilai ekonomi. "Jadi membuat polusi, desa penuh asap," kisah Sudin.

Bekas media tanam jamur juga bisa dijadikan kompos untuk lahan pertanian (Agus Prijono).

Bekas media tanam jamur juga bisa dijadikan kompos untuk lahan pertanian. "Kita diamkan dulu agar dingin. Kalau langsung digunakan tanaman bisa mati," imbuh Sudin. Lahan sawah yang dikompos lebih gembur dan banyak cacingnya.

Sudin menuturkan, kelompok ini sempat mengalami kegagalan saat pertama membudidayakan jamur merang. "Setelah itu, disediakan ahlinya oleh PT Pertamina EP," jelasnya, "jadi kalau ada kendala tinggal bertanya, menelepon."

Rintisan budidaya jamur ini sebagai bentuk kerjasama PT Pertamina EP Field Subang dengan kelompok tani. Sebelum terbentuk KUB, Sudin dan kawan-kawannya memang membentuk kelompok tani Mulya Abadi. Dari situ, lantas diadakan pelatihan budidaya jamur, administrasi KUB, dan pembuatan roti untuk ibu-ibu.

Sebagian hasil panen jamur disumbangkan ke kelompok untuk biaya operasional KUB, tabungan dan membayar sebagian biaya pembuatan kumbung. Biaya pembuatan satu kumbung, sebagian ditanggung anggota, sebagian lagi didukung oleh PT Pertamina. "Kita sudah sepakat dengan anggota, dua kali panen padi, biaya kumbung sudah lunas," imbuh Sudin.

Menurut Sudin, manfaat budidaya jamur merang ini tak hanya menambah pendapatan, tetapi juga bagi lingkungan dan menyuburkan lahan pertanian.