Memberdayakan Warga demi Penyu Belimbing

By , Kamis, 19 Juni 2014 | 17:16 WIB

"Kesuksesan konservasi penyu belimbing di Papua Barat tergantung pada dukungan masyarakat lokal. Jika mereka tidak disadarkan, upaya konservasi tidak terlaksana."

Demikian inti ucapan Fitryanti Pakiding setelah menerima penghargaan internasional Whitley Fund for Nature 2014 dari Putri Anne di gedung Royal Geographical Society, London-Inggris, 8 Mei lalu.

Perhatian serta dukungan internasional ini diberikan kepada Fitry, demikian dia biasa disapa, yang sejak tahun 2011 bersama tim dari Universitas Negeri Papua (Unipa) terjun langsung memberdayakan warga setempat.

Fitry bekerja sebagai dosen dan peneliti di Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Unipa, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Namun, dia juga meminati lingkungan hidup. Minat itu muncul karena tempat tinggalnya berlokasi dekat kawasan hutan lindung di gugusan Gunung Cyloop, Kampung Apo, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua.

Kecintaan terhadap lingkuangan ditularkan Fitry kepada anak-anak setempat. Dia memberdayakan warga di tiga kampung, yakni Saubeba, Wau, dan Warmendi, di Kabupaten Tambrauw. Dia memilih areal tersebut karena kampung-kampung itulah yang mengapit 2 lokasi konservasi penyu belimbing di Papua Barat—Pantai Jamursba Medi dan Pantai Warmon.

Kegiatan konservasi tak hanya berupa penyelamatan sarang dan telur hewan langka bernama latin Dermochelys coriacea ini, tapi Fitry juga memberikan pengetahuan tentang pengolahan hasil pertanian bagi sekitar 80 KK. Dia mengajari mereka membudidayakan sayur, membuat dendeng dari daging rusa dan babi hutan, membuat pupuk organik, dan minyak kelapa, serta membekali dengan kemampuan berwirausaha dan akuntansi dasar. 

"Sudah dua minggu kami diusir dari lokasi konservasi oleh ketua adat setempat. Ini karena warga menganggap kami memasuki hak ulayat tanah mereka. Jadi, saya mau ke kampung-kampung itu, meminta warga memberi kami kesempatan masuk ke lokasi konservasi. Kondisi seperti ini biasa kami alami dalam empat tahun terakhir," ujar perempuan asal Toraja ini.

"Penyu belimbing adalah ikon Papua Barat. Ironisnya banyak warga yang tak tahu keberadaan dan bentuk hewan ini. Oleh karena itu, saya dan enam anggota tim gencar berupaya memperkenalkannya kepada warga," kata dia. "Upaya konservasi penyu belimbing harus intensif karena banyak faktor yang mengancam kelangsungan hidupnya. Kondisi pasir di pantai yang terlalu panas, misalnya, bisa menggagalkan proses penetasan. Ada pula ancaman dari predator, seperti anjing dan babi hutan, yang suka makan telur penyu.

Kendala

Fitry mengakui ada sejumlah kendala yang sering menghambat kegiatan konservasi dan upaya pemberdayaan warga. 

Salah satunya adalah keterbatasan modal untuk biaya hidup dan transportasi mereka selama berada di tiga kampung dan dua lokasi konservasi. "Untuk sekali perjalanan ke sana selama enam jam dengan kapal cepat, kami menghabiskan dana Rp15 juta. Biaya untuk makan dan minum juga mahal," tuturnya.

Sementara pemerintah daerah belum memberikan bantuan dana. Jadilah dia berusaha mendapatkannya lewat proposal kepada lembaga asing yang peduli pada lingkungan. Alhasil, upayanya mendapatkan respons positif.

Kata Fitry, pernah ada lembaga yang memberikan dana Rp160 juta. "Kami menggunakannya sehemat mungkin agar kegiatan pemberdayaan dan konservasi bisa sampai enam bulan."

Kondisi cuaca yang tidak menentu juga menjadi kendala. Beberapa kali perahu yang ditumpangi Fitry tak dapat melanjutkan perjalanan ke lokasi konservasi karena ketinggian gelombang di perairan Pasifik mencapai 3 meter.

Namun, Fitry menegaskan, semua kendala itu tidak akan menyurutkan semangatnya untuk memberdayakan warga setempat demi konservasi penyu belimbing.