Intip Semangat Santri Lansia di Pondok Pesantren Sepuh

By , Jumat, 4 Juli 2014 | 10:19 WIB

Di usia senja, semangat dari sejumlah santri lansia ini masih amat tinggi dan patut diteladani.

Salah seorang di antaranya, Ahmad Kastolani (86), tidak terlihat letih menjalani aktivitas ibadahnya di Pondok Pesantren Sepuh Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Siang itu, Kamis (3/7), ia bersama ratusan jamaah baru saja mengikuti tausyiah dari seorang imam Masjid Agung Kauman Payaman. Senyumnya senantiasa mengembang ketika Kompas.com mengajaknya berbincang. 

“Saya menyadari saya ini sudah tua tapi saya semangat mencari ilmu. Justru di usia saya ini sudah waktunya merenungi diri, berpasrah kepada Tuhan karena tidak ada lagi yang saya cita-citakan di dunia ini,” tutur Mbah Kastolani, sapaannya, Kamis (3/6). 

Kastolani menceritakan, setiap bulan Ramadan, sejak tahun 2006, ia mengikuti kegiatan di pesantren yang dikenal sebagai Pondok Sepuh itu. Kakek 18 cucu itu pun mengaku ikhlas harus jauh dari keluarganya di Desa Cekelan, Kabupaten Temanggung. Ia tidak pernah mengeluh jika selama di pesantren ia harus hidup serba sederhana, mulai makan hingga tidur di lantai masjid dengan beralaskan karpet.

Ia mengisahkan, kegiatan ibadah dimulai pukul 01.00 WIB. Para jamaah harus bangun untuk mengikuti berbagai salat sunah, seperti salat hajat, salat tahajud, salat tasbih, dan mujahadah. Dilanjutkan dengan sahur, berdoa, dan mengikuti salat subuh berjamaah.

Sekitar pukul 06.00 WIB, para jamaah diwajibkan menjalankan salat dhuha dan membaca kitab suci Al Quran. Setelah itu, mereka mengikuti pengajian dari pukul 11.00 WIB sampai salat zuhur. Pukul 15.00 WIB, mereka mengikuti pengajian lagi sampai salat ashar. Seusai buka puasa, mereka kembali melaksanakan mujahadah dan dilanjutkan dengan salat isya dan salat tarawih. Di penghujung malam, para santri lansia itu mengikuti tadarus sampai pukul 24.00 WIB.

”Ini (Ramadan) kesempatan kita untuk berserah diri dan mohon ampunan. Memang harus ikhlas, karena Allah akan memberi ganjaran (pahala) yang banyak untuk bekal kita di akhirat,” ucap Kastolani, yang sehari-hari masih bekerja menjadi buruh petani. 

Pesantren sepuh ini berlangsung hingga Ramadan hari ke-20. Kastolani tidak sendiri, ia bersama sekitar 400 jamaah yang sebagian besar berusia lansia. Itulah sebabnya kenapa pesantren ini sering disebut Pondok Sepuh. Dalam bahasa Jawa, sepuh artinya tua atau lanjut usia. Pesantren ini diasuh oleh KH Asrori Al Havid, KH Mafatikhul Huda, Kiai Ahmad Fauzan dan KH Muhammad Tibyan Abdul Majid. Mereka merupakan generasi keempat KH Anwari Sirajd Bin Abdurrosyid atau Mbah Sirajd Payaman. Mbah Sirajd merupakan pendiri Masjid Agung Payaman dan Ponpes Sepuh pada 1937. “Dahulu almarhum Mbah Sirajd merupakan tokoh besar yang memiliki peran perjuangan di Magelang. Makamnya di belakang masjid ini. Inilah yang menjadi “magnet” masyarakat untuk ingin menimba ilmu di sini,” papar salah satu pengasuh pondok, KH Muhammad Tibyan Abdul Majid. Tibyan menuturkan, kegiatan Pondok Pesantren Sepuh yang khusus diselenggarakan pada Ramadan ini dimulai sejak tahun 1985. Kegiatan ini digagas oleh Kiai Ahmad Fauzan. Awalnya, kegiatan berupa pengajian setiap hari Senin. Kemudian, pada tahun 1990, jamaah semakin banyak. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Kota dan Kabupaten Magelang saja. Namun juga daerah lain seperti Temanggung, Purworejo, Wonosobo, Yogyakarta dan Kebumen. 

"Santri paling jauh berasal dari Serang. Rata-rata santri berusia antara 60-80 tahun. Ada juga yang berusia 90 tahun. Ketika mendaftar mereka harus didampingi anak atau keluarganya yang bertanggung jawab,” ujar Tibyan. 

Menurut dia, tidak mudah mengelola santri yang sudah tidak muda lagi. Kesulitan utamanya karena faktor kesehatan. Terkadang ada santri yang sudah sakit-sakitan namun ingin terus ingin berkegiatan bahkan tidak ingin pulang ke rumah karena merasa nyaman di PondokSsepuh.

“Ada juga yang sudah sangat lansia, berusia 90 tahun, ketika waktunya beribadah malah pergi entah ke mana. Kejadian ini membuat kami panik. Lantas kami cari hingga akhirnya ketemu ternyata ada di jalan,” kisah Tibyan. 

Meski usia sudah tua, aktivitas para santri tersebut terbilang padat. Sejak pagi hari sampai dini hari, para santri harus mengikuti pengajian, kajian fikih, tafsir, mujadahah, tadarus hingga sejarah Islam.

Tibyan mengisahkan, sekitar tahun 1937, pada masa penjajahan Belanda, banyak kiai dan santri berlomba-lomba mendirikan pondok pesantren untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat miskin. Tidak terkecuali almarhum Mbah Sirajd. Pondok pesantren yang didirikannya menjadi rebutan masyarakat yang hendak menimba ilmu agama. Akhirnya demi memberi kesempatan santri muda mengaplikasikan ilmunya, Simbah Sirajd memutuskan untuk menampung santri-santri tua.

"Yo wes nek kabeh ngurusi santri nom-nom aku tak ngurusi santri ro sedulur sing tuo-tuo (Ya sudah kalau semua mendirikan ponpes untuk santri muda, saya mengurusi santri lansia saja)," kata Mbah Siradj kala itu seperti ditirukan Tibyan.Sejak itulah pondok pesantren ini hanya menampung santri-santri lansia. Di luar bulan Ramadan ada sekitar 60 santri sepuh yang menetap di pondok tersebut.