47 Gambar Cadas Gua Harimau Teridentifikasi

By , Jumat, 25 Juli 2014 | 15:49 WIB

Pusat Arkeologi Nasional berhasil mengidentifikasi 47 gambar cadas atau rock art peninggalan Homo sapiens di Situs Gua Harimau, Desa Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Penemuan itu menarik karena selama ini gambar cadas hanya ditemukan di wilayah Indonesia timur.

Penelitian gambar cadas Gua Harimau dimulai sejak 2009 oleh peneliti Pusat Arkeologi Nasional, E Wahyu Saptomo. Saat itu, Wahyu menemukan gambar cadas bermotif jaring atau anyaman di dinding gua sebelah utara yang kemudian dinamakan galeri Wahyu utara.

Setahun kemudian, ahli komunikasi visual Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Pindi Setiawan, mengidentifikasi gambar cadas Gua Harimau di dinding timur dan barat. Pindi meneliti 25 motif gambar cadas berwarna merah dan coklat gelap yang rata-rata berbentuk geometris. Gambar itu dihasilkan dari kuasan jari dan alat runcing.

”Pada 2011, kami meneliti lagi dan menemukan lima motif geometris di sebuah relung galeri Wahyu,” kata Ketua Tim Penelitian Gua Harimau (ketujuh) Pusat Arkeologi Nasional Adhi Agus Oktaviana, Rabu (23/7), di Jakarta. Saat trans Hingga akhir penelitian, total ditemukan 47 gambar cadas di Gua Harimau. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, pigmen gambar-gambar itu mengelupas dan tumbuh lumut yang menutupi pigmen gambar.

”Pengurangan hutan menjadi lahan kelapa sawit turut memengaruhi kondisi gua. Selain itu, banyak pula pengunjung yang masuk ke gua dan mencoret-coret atau menuliskan nama di dinding gua,” katanya.

Sebagian besar gambar cadas tak begitu jelas mendeskripsikan sesuatu karena motifnya sangat sederhana. Diduga, gambar-gambar itu hasil goresan penghuni saat mengalami kesurupan atau trans saat ritual penguburan di lantai Gua Harimau.

Sejak 2009 hingga 2014, sebanyak 78 kerangka Homo sapienstelah diekskavasi dari Gua Harimau. ”Ini penemuan luar biasa. Selama ini, jejak Homo sapiens tidak pernah terdeteksi di Sumatera,” kata arkeolog prasejarah Pusat Arkeologi Nasional, Harry Truman Simanjuntak.