Idul Fitri yang Historis Tahun Ini

By , Senin, 28 Juli 2014 | 11:40 WIB

Idul Fitri tahun ini sangat historis, hadir seminggu setelah Komisi Pemilihan Umum mengumumkan pemenang Pemilu Presiden 2014. Sebuah momen yang panas dan mendebarkan masyarakat, khususnya mitra koalisi setiap kubu calon presiden-calon wakil presiden. Saya yakin pemilu presiden kali ini tidak luput dari campur tangan Tuhan mengingat bersamaan dengan bulan suci Ramadan yang disusul dengan Idul Fitri.

Kehadiran Ramadan secara drastis dan fenomenal telah mengubah ritme hidup dan perilaku masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, baik perilaku individual maupun sosial. Umat Islam secara kolektif dan masif melaksanakan salah satu ajaran pokok ibadah Ramadan, yakni imsak (menahan diri).

Kata imsak sesungguhnya mengandung kebajikan hidup yang bersifat universal. Sebagai ilustrasi singkat, bayangkan saja jika kita memiliki mobil yang bagus dan mahal, tetapi ternyata remnya tidak bekerja baik. Pasti akan menabrak-nabrak mendatangkan kecelakaan.

Berbeda dengan perintah agama yang lain, yaitu menekankan tindakan, puasa justru lebih ditujukan ke dalam diri untuk membangun pribadi yang mampu mengendalikan egonya, tidak mudah tergoda oleh kenikmatan sesaat yang bersifat jasadi.

Jika fitrah dipahami sebagai cetak biru manusia yang dibawa sejak lahir yang selalu damba pada kebaikan, kebenaran, kedamaian, dan keindahan, mari kita renungkan kembali fitrah atau geneologi bangsa Indonesia. Karena dorongan cita luhur dan jasa para pejuang, sampai hari ini kita memiliki rumah Indonesia yang kaya ragam budaya serta agama. Mereka telah melaksanakan prinsip imsak dalam hidup berbangsa, yaitu kemampuan menekan ego pribadi dan kelompoknya lalu melebur dan menyatu menjadi Indonesia. Dalam hal ini, kita pantas belajar pada pemuda 1928 dan pejuang kemerdekaan 1945 yang telah mengorbankan kepentingan pribadi, kelompok etnis, dan partai politiknya demi kejayaan bangsa Indonesia yang sejak awal sangat disadari bahwa masyarakat kita itu majemuk sehingga lahir moto: Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan antarparpol muncul hanya sesaat menjelang pemilu untuk memenuhi kaidah-kaidah demokrasi, selebihnya kita semua bersaudara.

Komaruddin HidayatRektor Universitas Islam Negeri Jakarta