Menurut Penelitian, Tes Darah Dapat Identifikasi Stres

By , Minggu, 28 Desember 2014 | 12:45 WIB

Para veteran yang banyak menyaksikan kematian dan kehancuran dalam konflik bersenjata, korban yang selamat dari bencana serta korban pemerkosaan sering mengalami penyakit stres setelah trauma (PTSD).

Luka psikis yang tidak tampak ini ditandai dengan perasaan cemas dan depresi juga ingatan kembali dan mimpi buruk mengenai kejadian yang mengerikan. Bahkan dengan terapi serta obat anti stress sekalipun penyakit ini sulit diobati.

Kini para periset di Icahn Fakultas Kedokteran Mount Sinai I kota New York telah menemukan penanda dalam darah yang tampaknya berkaitan dengan PTSD.

Sebuah pola aktivitas gen yang terkait dengan pengaturan hormon stress corticosterone ditemukan dalam jaringan otak tikus yang dipapar tanah berbau kotoran kucing selama 10 menit. Kucing adalah musuh alami tikus yang menjadi takut dan gelisah mencium bau kotoran kucing.

Binatang itu menunjukkan kecemasan dalam sebuah tes dan dengan mudah terkejut ketika dipapar suara keras.

Tapi sebagian tikus yang stress diberi corticosterone satu jam setelah dipapar bau kucing dan periset mendapati tikus itu kecemasannya berkurang dibandingkan tikus yang tidak diobati seminggu setelah terpapar bau kotoran kucing.

Ahli syaraf Ichan, Nikolaos Daskalakis mengatakan para dokter menambahkan bahwa corticosterone membawa dampak menenangkan pada orang yang diberi hormon itu setelah kecelakaan mobil.

“Jadi ini adalah penemuan secara kebetulan dimana mereka mengamati seseorang yang mendapat pengobatan itu, lebih kecil kemungkinannya menderita gejala psikis,” kata Nikolaos Daskalakis.

Daskalakis mengatakan penemuan itu bisa mengarah pada pengembangan sebuah tes untuk resiko PTSD. Tes itu akan mengukur aktivitas penerima glucocorticoid dalam darah. Itu adalah gen-gen yang menjadi aktif ketika stress terjadi. Hormon corticosterone dihasilkan secara alami oleh tubuh, berhubungan dengan penerimanya dan mempunyai dampak menenangkan.

Pada beberapa tikus, dan tampaknya pada sebagian orang, proses tersebut tampak tidak efektif dan ini menyebabkan mereka beresiko lebih tinggi terkena PTSD.

“Semoga kita akhirnya menemukan sebuah pengobatan. Tapi masih banyak studi biologis pada manusia dan binatang yang harus dilakukan sebelum sampai ke tahap tersebut,”kata Nikolaos Daskalakis.

Daskalakis menambahkan bahwa penyakit PTSD tidak saja berdampak pada otak tapi pengaturan tubuh dalam menanggapi stress.

Artikel mengenai kemungkinan tes darah bagi PTSD diterbitkan dalam jurnal  Proceedings of the National Academy of Sciences.