Endek Bali Itu Bagus...

By , Selasa, 26 Agustus 2014 | 10:27 WIB

Kisah tenun khas Bali adalah kisah tentang daya untuk selalu berubah, bersesuai dengan zaman, dan selera pasar. Semua bertumpu kepada para pengampu tradisi menenun di Pulau Dewata. Dari tangan mereka dihasilkan tenun-tenun terbaik yang menggenapkan hidup dan ritus manusia Bali.Tangan kanan Ketut Sutri (62) lembut mengayuh roda pemintal benang, menerau benang pakan warna-warna yang susul-menyusul di sepanjang untaiannya. Jemari tangan kirinya terus memainkan aliran benang pakan dari gelendong merata di segenap buluh peletingnya. Sejak 1982, Sutri bekerja di pabrik tenun. Dia menenun beragam tenun endek, kebanyakan di pabrik tenun di Karangasem.”Saya menenun sudah sejak umur 14 tahun,” kata Ketut Sutri di bengkel kerja Berdikari di Singaraja, Bali.Benang pakan yang diteraunya kian gemuk merata di buluh peleting, warna-warninya bertumpukan, nyaris tak terbayangkan bakal seperti apa kain yang sedang ditenun Ketut Sutri. Ia menghentikan kayuhan tangannya, mencopot buluh peleting dari poros alat penggulung.Benang pakan yang diterau Ketut Sutri adalah ujung dari sebuah cara produksi tenun endek yang canggih menyalin sistem ban berjalan ala pabrik mobil. Nyaris serupa dengan keberhasilan Ford memproduksi Model T dengan melimpah dan murah, Pertenunan Berdikari di Singaraja berhasil secara terus-menerus menenun endek, setiap hari tanpa henti.Benang pakan Ketut Sutri, dengan pewarnaan yang rumit untuk menghasikan berhelai-helai tenun endek bermotif merak indah, dihasilkan dari ikatan rumit dan kedap air garapan Komang Susena (40) dan Ketut Budiadi (40). Di teras belakang bengkel kerja Berdikari, kedua lelaki itu begitu piawai menyalin motif-motif dari lembar-lembar kertas strimin, membuat ikatan-ikatan pita tali rafia pada bergulung-gulung benang kapas yang terpasang meregang di bingkai kayu.”Ini motif plendoan, rancangan motifnya dibuat oleh almarhum Pak Komang Alit, perintis Pertenunan Berdikari,” kata Komang Susena.Biasanya dibutuhkan waktu 7 hari untuk mengikat dan mencelupkan benang ke pewarna. Demi pewarnaan yang lebih rumit, dipakai teknik colet atau pewarnaan benang kapas dengan pewarna yang dioleskan menggunakan bilah bambu. ”Dengan colet, jumlah perendaman yang berisiko merapuhkan benang kapas bisa dikurangi,” kata Ketut Budiadi.Pemalpalan atau pemisahan benang pakan yang telah selesai diwarnai menjadi tahapan berikutnya. Made Arini (65) bertanggung jawab memisahkan benang pakan yang selesai diwarnai. ”Pada tenun endek, teknik ikat bisa dipakai untuk menghasilkan lima set benang pakan yang sama. Setelah diurai akan ditemukan benang pakan yang terwarnai utuh meresap warna motif dan benang pakan yang pewarnaannya kurang meresap warna,” kata Made Arini yang dengan lembut mengayuh roda alat pemalpalan yang merentang dan menggulung ulang 25 benang pakan semotif.Segala kerumitan mewarnai benang pakan dengan variasi motif yang tak berbatas itu menggenapi kerja Nyoman Tulus (72). Ia adalah orang yang paling piawai memasang benang lungsin di 10 alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ada di bengkel kerja Berdikari. ”Memasang benang lungsin mungkin pekerjaan termudah di bengkel kerja ini,” ujar Nyoman Tulus.Tentu saja Nyoman Tulus bergurau dan berbasa-basi. Setiap kali mesin tenun kehabisan benang pakan, Nyoman Tulus akan memasang 160 meter benang lungsin melewati sisir-sisir benang yang berjumlah ribuan dan menggulungnya tanpa kusut di ATBM. Jika benang pakan menentukan motif yang termunculkan, jumlah benang lungsin menentukan kerapatan sebuah tenun endek.

!break!

Setia menenunPertenunan Berdikari memang satu dari sedikit pabrik tenun endek yang masih bertahan di tengah serbuan kain-kain tenun dari Jawa. Pabrik tenun lain dengan proses produksi serupa yang juga menggunakan sepuluh ATBM adalah tenun ikat Sekar Jepun di Denpasar. Saking terkenalnya tenun ikat Sekar Jepun, nama jalan di sekitar pabrik dinamai sesuai nama tenun endek, yaitu Sekar Jepun.Pemilik Sekar Jepun, Etmy Kustiyah Sukarsa, mempertahankan kualitas tenun yang diproduksinya. Ia seorang diri mengontrol proses desain dan pewarnaan. Kunci pertahanan Sekar Jepun sehingga bisa terus berproduksi di tengah gempuran industri tekstil terletak pada konsistensi kualitas dan pembatasan produksi. Etmy mencontohkan, baru saja dirinya menolak permintaan produksi 3.000 meter tenun endek karena tak ingin pegawainya menenun terburu-buru.“Motif saya tidak ada yang rusak. Motif bunga, misalnya, harus utuh. Kalau rusak, harus dibongkar. Lebih baik saya rugi benang daripada kain saya jelek,” kata Etmy dengan 20 karyawan yang setia bekerja sejak pertama kali pabrik tenun tersebut berdiri.Ni Nyoman Sujani, yang merintis Pertenunan Berdikari bersama suaminya, Komang Alit (alm), sejak 1966, menuturkan, sistem ban berjalan bengkel kerjanya membuat Pertenunan Berdikari secara teratur memproduksi tenun endek. Akan tetapi, minat pasar yang menurun membuat perputaran bisnis Pertenunan Berdikari melambat.Satu setel kain tenun endek dengan harga mulai dari Rp 1,25 juta (berbahan benang kapas) hingga Rp 1,6 juta (berbahan sutra) tidak membuat omzet Pertenunan Berdikari gemuk. ”Kalau dihitung dengan hitungan bisnis ketat, berbisnis tenun sekarang merugi, setidaknya impas. Pertenunan Berdikari masih berjalan lebih karena saya ingin mempertahankan tradisi tenun endek dan menampung para petenun,” ujar Ni Nyoman Sujani.Etmy optimistis tenun khas Bali bisa terus bersaing di pasaran. ”Harus lebih baik daripada produksi Troso. Kalau mereka lebih murah. Yang penting harus bisa mempertahankan milik kita supaya orang bisa menilai endek Bali itu bagus. Supaya konsumen tahu bahwa di Bali pun tak kalah. Yang penting kualitas,” tambah Etmy.