Harimau Jawa: Punah atau Tidak?

By , Minggu, 23 November 2014 | 17:00 WIB

Panthera tigris sondaica atau yang lebih dikenal dengan harimau Jawa, adalah subspesies yang telah punah. Berhabitat di pulau Jawa hingga tahun 1970an, alasan utama kepunahannya adalah karena tingkat perburuan yang tinggi.

Harimau Jawa berukuran lebih kecil dari subspesies daratan Asia lainnya, tetapi lebih besar dari harimau Bali. Bobot sang pejantan mencapai 100 hingga 140 kilogram, dengan ukuran tubuh 200 hingga 245 sentimeter. Harimau Jawa betina berukuran lebih kecil dari yang jantan, dengan bobot 75 hingga 115 kilogram. Corak belang-belangnya relatif lebih kecil dan panjang, sedikit lebih banyak dari harimau Sumatera.

Di akhir abad ke-18, kebanyakan harimau berhabitat di pulau Jawa. Sekitar tahun 1850, penduduk menganggap mereka sebagai wabah, dan pada tahun 1940, harimau mengungsi ke pegunungan dan hutan. Sekitar tahun 1970, harimau berhabitat di daerah Gunung Betiri, dan tahun 1972, area seluas 500 kilometer persegi telah ditetapkan sebagai suaka margasatwa. Populasi harimau terakhir ditemukan pada tahun 1976.Saat Perang Dunia Kedua, harimau Jawa dijaga dalam kebun binatang di Indonesia, tetapi kebun binatang-kebun binatang ini ditutup saat perang tersebut terjadi. Dan seusai perang, karena langka, lebih mudah memperoleh harimau Sumatera.

Musnahnya harimau JawaDi awal abad ke-20, pulau Jawa dihuni oleh 28 juta orang. Produksi beras tahunan tidak cukup untuk memasok kebutuhan populasi manusia yang terus bertumbuh, sehingga dalam waktu 15 tahun, 150% lahan dibersihkan untuk membudidayakan padi. Tahun 1938, sebanyak 23% lahan terdiri dari hutan, dan pada 1975 hutan hanya terdiri dari 8% karena populasi manusia terus bertambah hingga 85 juta orang.

Di dataran yang didominasikan manusia, pemusnahan harimau Jawa diperkuat oleh gabungan beberapa kondisi dan peristiwa:1. Harimau dan mangsanya diracuni di berbagai tempat ketika habitat mereka berkurang dengan cepat.

2. Saat Perang Dunia Kedua, hutan dibagi-bagi untuk lahan perkebunan pohon jati, kopi, dan karet yang tidak sesuai untuk habitat hewan liar.

3. Rusa, mangsa utama harimau Jawa, semakin berkurang akibat penyakit di berbagai daerah dan hutan di tahun 1960an.

4. Selama periode kerusuhan setelah tahun 1965, kelompok bersenjata membunuh populasi harimau Jawa yang masih tersisa pada waktu itu.

!break!

Usaha terakhirHingga pertengahan tahun 1960an, harimau bertahan hidup di tiga lokasi yang dilindungi, yang telah didirikan sejak tahun 1920 hingga 1930an, yaitu Ujung Kulon, Leuwen Sancang, dan Baluran. Tetapi setelah periode kerusuhan sipil, tidak ada harimau yang ditemukan di sana. Tahun 1971, seekor harimau betina ditembak di perkebunan dengan Gunung Betiri di tenggara Jawa. Sejak saat itu, tak ada tanda-tanda kehidupan anak harimau.

Area ini kemudian dikembangkan menjadi suaka margasatwa pada tahun 1972, di mana saat itu diberlakukan program penjaga kecil-kecilan dan program pengelolaan empat habitat. Suaka margasatwa ini terganggu oleh dua perkebunan besar di lembah-lembah sungai utama, yang cocok untuk habitat harimau dan mangsanya.

Sejak tahun 1979, dikonfirmasikan tak ada lagi tanda-tanda kehidupan harimau Jawa di Gunung Betiri. Berbagai pencarian harimau Jawa terus dilakukan selama bertahun-tahun, dan berbagai rencana mendirikan serta mengembangkan suaka margasatwa diutarakan.

Dugaan keberadaan harimau JawaBerbagai laporan mengenai keberadaan harimau Jawa berkumandang sejak tahun 2000an. Di bulan November 2008, ditemukan mayat pendaki wanita di Taman Nasional Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Wanita ini meninggal akibat serangan harimau. Para penduduk lokal yang menemukan tubuh wanita malang ini pun menyatakan melihat keberadaan harimau.

Kabar mengenai harimau lainnya datang dari Kabupaten Magetan, Jawa Tengah, pada Januari 2009, di mana beberapa penduduk menyatakan melihat seekor harimau betina dengan dua anaknya berkeliaran dekat desa di Gunung Lawu. Kabar ini pun membuat panik. Pemerintah daerah setempat pun menemukan jejak daging di lokasi tersebut. Namun, saat itu, hewan-hewan tersebut telah menghilang.

Setelah tragedi meletusnya Gunung Merapi pada Oktiber 2010, dua penduduk Indonesia menyatakan menemukan jejak kaki 'kucing besar' di tanah abu, yang kemudian membangkitkan kabar mengenai keberadaan harimau atau macan tutul yang berkeliaran di peternakan lama untuk mencari makanan.

Apakah benar harimau Jawa sebenarnya tidak punah? Jika benar (selama ini) mereka tidak punah, di mana mereka bersembunyi?