Bus Listrik Karya ITS Telah Diuji Coba

By , Senin, 24 November 2014 | 17:41 WIB

Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya kembali unjuk penemuan di bidang rekayasa otomotif. ITS yang sebelumnya populer di kontes mobil cepat ramah lingkungan dunia dengan karyanya, Sapu Angin, kini memamerkan bus listrik di kawasan Taman Bungkul Surabaya, Minggu (23/11).

Didominasi warna merah, bus listrik ITS, langsung mencuri pandang publik yang memenuhi kawasan Car Free Day Taman Bungkul. Tak ada yang istimewa dengan desain body dari bus ini. Dengan panjang 5 meter, lebar 2,3 meter, dan tinggi 2,8 meter, bus ini mampu mengangkut 25-30 orang. Namun, hanya ada sembilan seat saja di dalamnya, sementara sisanya berdiri dan disediakan tali gantungan.

Rektor ITS, Triyogi Yuwono, mengatakan, produksi bus listrik ini menjadi cara ITS untuk menjawab krisis energi dan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

“Lewat inovasi teknologi, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih cepat. Bukan dengan demonstrasi anarkistis,” ujar Triyogi, sambil tersenyum.

Untuk membangun bus ini, tim ITS tetap memerlukan komponen impor, yakni motor dan baterai, dari Tiongkok. Sisanya, merupakan komponen lokal.

Bus listrik ini menelan biaya Rp1,5 miliar untuk pembuatan dan penelitian. Dengan daya 60 kilowatt, bus yang bisa mengangkut 26 penumpang ini mampu melahap jarak tempuh sejauh 160-200 kilometer untuk sekali isi (charge) baterai.

Adapun waktu pengisian baterai hingga delapan jam. Triyogi mengklaim, keunggulan bus listrik ini adalah mampu menghemat biaya operasional hingga 40 persen dibandingkan bus konvensional.

Meski tanpa BBM, bus listrik ITS pun cukup nyaman karena dilengkapi dengan penyejuk udara (AC). Sayang, dalam uji coba, AC sempat mati, dengan dalih lupa mengisi ulang baterai dan jumlah penumpang yang membeludak melebihi standar.

“Bus listrik ini dilengkapi smart grid sehingga sumber listrik bisa didapatkan dari mana pun, termasuk tenaga surya. Saat kapasitas baterai tinggal 20 persen, akan ada peringatan sehingga baterai tidak benar-benar habis,” jelas Triyogi, menjawab masih belum adanya fasilitas pengisian tenaga baterai untuk mobil listrik di Indonesia.