Terbenam Murka Sang Ancala

By , Sabtu, 28 Maret 2015 | 11:05 WIB

Hujan deras mendera sebuah permukiman di pinggang Tambora, sesaat sebelum gunung itu bererupsi hebat. Kemudian, gemuruh dahsyat dan hujan abu pun mulai meneror warga untuk segera mengungsi. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Luncuran awan panas telah menerjang permukiman, sebelum semua warga meninggalkan desa.

Erupsi megakolosal Gunung Tambora pada 10 April 1815 telah membenamkan dua perdaban Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Kendatipun jumlah korbannya yang fantastis, tidak ada jumlah pasti berapa total korban yang dimangsanya. Namun, perkiraan mutakhir lebih dari 71.000 orang tewas. Para tumbal angkara Tambora itu tersebar dari Sumbawa, Lombok, hingga Bali. Kedahsyatannya telah mengubah sejarah ekologi di kawasan itu.

Setahun selepas murka sang ancala, keceriaan musim panas di Bumi belahan utara telah sirna berganti musim dingin yang mencekam. Kawasan itu didera petaka kegagalan panen, berjangkitnya penyakit, dan berujung pada binasanya kehidupan.

Fenomena hilangnya musim panas—atau The Year Without A Summer—karena erupsi megakolosal Tambora telah menjadi perbincangan seantero dunia. Namun, bagaimanakah sosok dua kerajaan yang terbenam murka sang ancala, hingga kini masih berselimut kelambu teka-teki. Apakaha dua kerajaan itu telah mendiami Semenanjung Sanggar sebelum masuknya Islam? Mengapa keduanya tidak biasa disebut dengan kesultanan, seperti beberapa kerajaan lainnya di Sumbawa? Seperti apakah rupa rumah-rumah di pinggang Tambora kala itu?

Gelegar akbar Tambora pada 10-11 April 1815 memangkas sepertiga tinggi gunung tersebut. Sebuah kaldera berdiameter enam kilometer dan sedalam sekitar satu kilometer menjadi tengara sejarahnya. Telusuri sisa letusan Gunung Tambora di majalah National Geographic Indonesia edisi April 2015. (Warsono/National Geographic Indonesia)

Sebuah cerita berjudul Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora, yang berasal dari Makassar, memandang Kerajaan Tambora lenyap karena murka Tuhan. Betapa Raja Tambora dilukiskan mengingkari ajaran Islam karena membiarkan anjingnya memasuki masjid. Kisah senada lainnya bersumber dari Syair Kerajaan Bima gubahan Katib Lukman sekitar 1830, seorang pejabat di Kesultanan Bima. Sang Katib mengungkapkan, Raja Tambora merupakan seorang yang takabur dan durhaka sehingga negerinya hancur lebur karena kutukan. Kita pun bertanya-tanya, mengapa tinggalan sastra semasa seolah membenci Kerajaan Tambora?

Peradaban Kerajaan Tambora dan Pekat telah menghilang. Gunung ini memang telah merenda takdirnya sebagai sebuah petaka yang sempurna ibarat makna "Tambora" yang dalam bahasa setempat berarti "ajakan untuk menghilang". Namun, penelitian para ahli vulkanologi dan ahli arkeologi tampaknya menolak ajakan itu. Mereka telah berhasil menampakkan permukiman desa di wilayah Kerajaan Tambora, beserta repihan perkakasnya.

Gasing, mainan tradisonal anak-anak yang terbuat dari kayu. Alat permainan ini ditemukan ahli arkeologi ketika mengekskavasi situs permukiman Tambora. Hingga kini anak-anak sekitar Gunung Tambora masih memainkan gasing. Foto seizin: Balai Arkeologi Denpasar. (Dwi Oblo)

Usai menebarkan petaka nan sempurna pada dua abad silam, kini Gunung Tambora menebarkan kisahnya untuk kita. National Geographic Indonesia edisi April 2015 menampilkan kisah feature "Terbenam Murka Sang Ancala" yang berusaha menjawab teka-teki tentang peradaban yang tersuruk petaka Tambora.

Sementara, web National Geographic Indonesia menampilkan berbagai artikel pendek terkait gelagar Tambora dan sebuah kisah feature khusus "Petaka Baru Bagi Tambora". Kabar petaka Tambora yang membinasakan manusia telah diwartakan sejak dua abad silam. Apa kabar terkini tentang manusia yang menghuni gunung itu?

Kisah-kisah tersebut merupakan sari dari Penjelajahan "200 Tahun Gelegar Tambora 1815-2015", sekaligus tengara puncak perayaan 10 Tahun National Geographic sebagai jendela Nusantara.