Pemba, Sherpa yang Lolos dari Maut

By , Rabu, 15 April 2015 | 14:00 WIB

Pada 18 April tahun lalu, bongkahan es terlepas dari gletser gantung, sebelah barat bahu Gunung Everest. Peristiwa itu menjadi yang paling parah dalam sejarah pendakian Gunung Everest. 16 orang Sherpa tewas, delapan orang lainnya cedera.

Salah satu dari tim pendaki yang selamat, seorang Sherpa bernama Pemba, memutuskan untuk tidak lagi kembali melakukan rutinitasnya sebagai setengah pemandu, pembimbing, pelindung, dan asisten pribadi bagi mereka yang ingin menaklukkan puncak Everest.

Kisah pilu di pagi 18 April lalu masih membekas jelas di ingatannya.

April lalu, Pemba mengemban tanggung jawab untuk menuntun kliennya, seorang pria berumur sekitar 40 tahun dari Alaska. Di hari peristiwa naas itu terjadi, Pemba dan kliennya baru saja memulai pendakian menuju area yang dinamakan Football Field, suatu dataran yang relatif rendah di ketinggian kurang lebih 5712 mdpl, dataran terdekat dari Base Camp, desa yang juga merangkap sebagai pos pertama tempat para pendaki mempersiapkan diri dan memastikan segala perlengkapan sebelum memulai pendakian.

Tiba di Football Field, Pemba berdiri di tepian dataran, meminum air dari botol minumnya. Tak lama ia merasakan hempasan angin dan mendengar suara gemuruh kencang dari atas tebing. Lima menit kemudian, balok-balok es sebesar gedung mulai berjatuhan dari atas tebing. Pemba, menyaksikan segalanya dalam tatapan horor, mulai berlari, mengangkat tas carriernya ke atas kepala sebagai tameng, melindungi diri dari hujan salju dan es yang mulai mengejar.

Hal selanjutnya yang ia tahu, dunia berubah gelap.

Beberapa waktu kemudian, ia mendapati sepupunya yang juga seorang Sherpa, Phinjo Dorje, bangun dari dalam kungkungan salju yang mengubur mereka. Keduanya lalu mulai menyisir lokasi sekitar, sambil menerka apa yang baru saja terjadi.

Sampai saat ini, bayangan ke-16 Sherpa yang ia temukan tewas disana masih teringat jelas di benaknya.

Berada Sangat Dekat dari Kematian

Pemba, layaknya Sherpa lain, menerima nasib sebagai pendamping pendaki karena satu alasan sederhana: kebutuhan finansial. Upah yang mereka terima dalam sekali bertugas bisa mencapai US $8000, sepuluh kali lebih besar dari upah minimum yang mereka terima sebagai pekerja biasa di Nepal.

Sebagai seorang Sherpa, pagi itu memang bukan kali pertama Pemba berhadapan dengan kasus kematian. Dulu ia pernah membawa turun kerabatnya yang tewas saat pendakian. “Tapi ia tewas karena faktor medis.”

Sore hari saat Pemba pulang ke rumahnya di desa Phortse, ibu Pemba menyambutnya dengan isakan tangis lega. Sementara sang ayah, Lhakpa Dorje Sherpa, seorang Sirdar atau pemimpin ketua, mengungkap syukurnya dengan memeluk Pemba dalam diam.

Tidak pernah ia bayangkan bahwa pagi itu, anak semata wayangnya akan berada sangat dekat dengan kematian.