Mengungkap Keunikan Alam Enggano

By , Jumat, 17 April 2015 | 16:00 WIB

Kekayaan alam hayati Enggano masih misterius. Satu hal yang diketahui pasti mungkin hanya bahwa pulau itu kaya buaya muara.Ekspedisi Widya Nusantara yang diprakarsasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kini akan mengungkap keunikan alam pulau seluas 39.000 hektar yang masuk dalam wilayah Provinsi Bengkulu itu, memecahkan misteri kekhasan alamnya."Ada 3 tim peneliti yang berangkat ke ekspedisi itu, tim ilmu pengetahuan hayati, geologi, dan ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan," kata Amir Hamidy, pimpinan ekspedisi.Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnaen, mengungkapkan bahwa Enggano unik secara geologi karena merupakan oceanic islands, pulau yang dalam sejarahnya tidak pernah menyatu dengan Pulau Sumatera. Keunikan itu pasti memengaruhi biodiversitasnya. "Pulau Enggano punya tingkat endemisitas flora fauna tinggi dan nilai penting dari aspek geologi, ekologi, dan evolusi," katanya.Lewat ekspedisi yang berbiaya hingga Rp 700 juta itu, keunikan Enggano akan diungkap. Amir Hamidy yang merupakan peneliti reptil dam amfibi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI yakin akan banyak menemukan spesies baru di pulau tersebut. "Terpisah dari Sumatera, saya yakin keragamannya sudah terspesiasi. Saya yakin 50 persen yang kita temui baru," katanya kepada Kompas.com, Rabu (15/4).Terkait bidang ilmunya sendiri, dia mengungkapkan akan melakukan survei populasi buaya muara. Ia berharap, kekayaan hayati yang terungkap akan membuat pemerintah punya niat untuk melestarikan alam pulau itu.Selain mengkaji keunikan hayati, tim peneliti juga bakal mempelajari potensi biodiversitas untuk kebutuhan umum dan masyarakat setempat."Misalnya dari biomaterial akan mempelajari material-materal apa yang mungkin dikembangkan dari bahan alam di sana. Kalau bioteknologi akan meneliti tanaman berbahan obat," jelas Amir."Kita juga akan teliti bahan pangan yang ada. Karena terpisah dari Sumatera, jika terjadi bencana, bahan pangan bisa yang ada bisa dimanfaatkan," imbuhnya.Tim peneliti hayati berjumlah 50 orang. Sementara, tim geologi berjumlah 43 orang. Tim peneliti ilmu sosial dan kemanusiaan yang berjumlah 9 orang akan mendata kebudayaan setempat dan aspek lainnya. Tim peneliti hayati berangkat Kamis (16/4).Secara geopolitik, penelitian Enggano juga penting. Indonesia pernah kehilangan Sipadan, salah satu alasannya karena tidak memiliki data tentang wilayah setempat.Belajar dari pengalaman tersebut, penelitian Enggano sebagai salah satu pulau terluar Indonesia diperlukan. "Jika kita memiliki data tentang Enggano, maka dasar klaim kita akan wilayah itu lebih kuat," kata Amir.