Menyelamatkan Bumi dengan Kotoran Cacing

By , Rabu, 3 Juni 2015 | 17:00 WIB

Alam sebenarnya punya "sistem daur ulang biologis" yang menjaga keselamatan Bumi dan kesuburan tanah. Terbukti, bila sistem daur ulang berlangsung total - seluruh sisa organik dikomposkan dan dikembalikan ke tanah, tidak saja kesuburan tanah dapat dipertahankan, produktivitasnya pun meningkat.

Lewat proses daur ulang, sisa organik dari hewan, manusia, dan tumbuhan (bangkai, tinja, urine, dan residu lainnya) yang jatuh ke tanah menjadi sumber energi bagi organisme tanah. Berangsur-angsur dilepaskanlah zat hara, terakhir dihasilkan humus - pupuk ciptaan alam pembangun kesuburan tanah. Manusia lalu meniru proses alam itu untuk menghasilkan bahan serupa yakni kompos.

Sampai kini, sistem pertanian kimia masih diandalkan meski jelas-jelas menguras bahan organik tanah. Tanah pun makin kurus, sehingga membutuhkan pupuk kimia makin banyak lagi untuk menghasilkan output produksi yang sama. Belum lagi dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem biologis. Timbul ledakan-ledakan serangan hama penyakit yang sebelumnya jarang terjadi.

Kelemahan sistem pertanian kimia ini harusnya menyadarkan kita untuk kembali ke alam dengan sistem pertanian organik yang tanpa/sedikit menggunakan bahan kimia sintetis. Salah satu alternatif yang bisa dicoba adalah memanfaatkan cacing tanah, yang ternyata merupakan pembangun kesuburan yang sempurna di alam. Mereka hidup dalam lapisan tanah atas (top soil) setebal 30 - 40 cm. Kotorannya (casting) jauh lebih subur daripada humus lain.

Secara naluri mereka terus-menerus membuat liang yang menjadikan top soil gembur, berstruktur remah, stabil, dan kaya dengan kotoran cacing. Humus bentukan mikroorganisme tanah bercampur dengan kotoran cacing menjadi "vermi kompos". Penelitian membuktikan, dengan pupuk vermi kompos, produktivitas tanaman 36% lebih tinggi daripada yang dipupuk dengan kompos biasa.

Casting, selain memiliki hara lengkap dan tinggi, juga kaya enzim, hormon, dan mikroorganisme bermanfaat. Berkat kotoran cacing tanah ini, kegiatan mikrobiotik tanah ditingkatkan, sirkulasi unsur silikat (Si) terdorong sampai terserap tanaman. Padahal menurut V.T. Vernadski, seorang ahli dari Rusia, tak ada organisme yang hidup tanpa unsur Si. Kadar Si cukup dalam tanaman akan meningkatkan resistensi dan produktivitas tanaman itu.

!break!

Salah satu negara yang telah memetik hikmah cacing tanah adalah Kuba. Negara ini tertimpa krisis pertanian gara-gara embargo. Untuk menanggulangi ketergantungan pada pupuk kimia impor, para ahli pertaniannya kemudian mengembangkan paket teknologi vermi kompos (vermi culture). Program yang dimulai pada 1988 dengan modal dua kotak kecil cacing merah Eisenia fetida dan Lumbricus rubellus ini, hingga 1992 telah melahirkan 172 pusat vermi culture dengan produksi total 93.000 ton vermi kompos. Sejak itu, impor pupuk kimia Kuba berkurang 80%. Mereka pun menemukan dosis vermi kompos untuk tanaman pangan, 4 ton/ha.

Programnya sendiri sederhana tapi efektif dengan pokok-pokok garapan sebagai berikut:

Mari selamatkan bumi kita lewat program vermi culture dan pertanian organik!