Pulau Bunta, Paras Eksotisme Negeri Zamrud Khatulistiwa

By , Senin, 20 Juli 2015 | 18:40 WIB

Mulanya, Pulau Bunta adalah sebuah pemukiman warga. Namun, pulau ini ditinggal penghuninya usai disapu badai tsunami penghujung 2004 silam. Pulau ini mampu mewakili paras nusantara, sebuah negara kepulauan.

Pulau Bunta masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Usai ditinggal penghuninya, pulau ini dijadikan kebun oleh para pemilik lahan yang kemudian hijrah ke Kota Banda Aceh.

Kelapa yang menjadi tumbuhan khas hutan tropis menjadi populasi terbesar. Sementara daratannya sendiri dikelilingi pantai berkarang dengan air sejernih cermin.

"Pulau Bunta masih sangat alami dan asri. Meski pun pulau ini banyak ditumbuhi kelapa, tapi uniknya tak ada monyet, tupai, ataupun ular," terang Herli Nurdiansyah.

Pemuda yang akab disapa Ayi ini memang penggemar traveling. Ia dan kawan-kawannya sudah beberapa kali ke pulau ini. Tak hanya sebagai traveler, tetapi ia juga kerap memandu pelancong.

Jika berangkat dari Kota Banda Aceh, wisatawan bisa menyeberang ke Pulau Bunta melalui Desa Ujong Pancu, Kecamatan Peukan Bada. Alternatifnya adalah kapal nelayan berkapasitas 15-20 orang. Pemilik kapal mematok tarif Rp 700.000 untuk sekali berlayar. Perjalanan laut tersebut memakan waktu sekitar 45 menit.

Mengingat kapal yang digunakan berukuran kecil, maka kondisi cuaca menjadi pertimbangan sebelum berlayar. Ditambah lagi perairan tersebut merupakan tempat pertemuan arus.

Berkemah

Pulau Bunta direkomendasikan bagi para backpacker. Tempat ini sering dijadikan lokasi berkemah para pecinta alam. Alam yang asri dan menawan dengan suasana tenang yang melingkupinya, menjadi alasan para pelancong datang dan kemudian ingin berkunjung lagi dan lagi. Namun karena tempat ini merupakan pulau tak berpenghuni, maka logistik dan tenda masuk dalam barang bawaan 'wajib'.

Kapal nelayan berlayar setiap harinya ke Pulau Bunta dengan durasi tergantung permintaan. Setelah merapat ke dermaga, tinggal berjalan kaki selama 20 menit menyusuri bibir pantai yang berkarang. Pohon ketapang adalah lokasi favorit para backpacker.

Di sini adalah titik yang tepat untuk melepas pandang menatap Pulau Bate dan Pulau Nasi yang juga masuk dalam gugusan pulau kecil di ujung Pulau Sumatera. Dari tempat ini, Anda juga bisa menatap paras Kota Banda Aceh yang semakin berseri.

Selain berkemah di pinggir pantai, jangan lewatkan kesempatan melakukan aktivitas snorkeling. Meskipun tak sekaya wisata bawah laut Sabang, namun jika beruntung Anda bisa melihat lobster yanng konon hanya ada di perairan Simeuleu, Aceh. Kerang-kerangan dan hiu juga menjadi penghuni pantai Pulau Bunta.

Anda hanya membutuhkan waktu seharian untuk berkeliling pulau kecil yang sudah ditinggal penghuninya ini. Selain berkemah dan snorkeling, pilihan lainnya adalah menyusuri jalan menuju mercusuar.

Perjalanan sekitar 30 menit itu terasa menyenangkan lantaran jalannya yang menanjak dan menurun diapit oleh batuan alam yang membujur di sisi jalan. Dari lokasi mercusuar, Anda bisa melepas pandang menatap Samudera Hindia yang biru membentang. Di sini terdapat 2 unit rumah petugas mercusuar yang karena tugasnya menetap di pulau kecil ini.

Sementara jejak pemukiman penduduk yang hanya menyisakan 17 kepala keluarga usai diterjang tsunami bisa dilihat dari rumah-rumah yang kini beralih fungsi menjadi pondok perkebunan kelapa. Pulau Bunta mewakili sekeping paras nuasantara, eksotisme negeri zamrud khatulistiwa.