Petisi daring Change.org kembali ramai karena Mamah Dedeh menyamakan penyandang autisme dengan orang yang terlalu asyik dengan gawai atau gadget.
Padahal, para orang tua penyandang autisme masih terus berharap agar masyarakat mengerti keadaan anak mereka yang unik, dan bisa menerima apa adanya. Orang tua bahkan harus berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak-anak spesial mereka.
Sebelum tercetus untuk menjuluki orang lain dengan kata autis, ada baiknya jika Anda mendalami apa sebenarnya yang dialami oleh para penyandang autisme:
Menurut Melly Budhiman, ketua Yayasan Autisma Indonesia, individu penyandang autisme mengalami gangguan dalam interaksi sosial timbal-balik, dan perilaku. Mereka juga seakan memiliki dunia tersendiri. Psikolog Adriana S. Ginanjar juga mengungkapkan, bahwa beberapa ciri khas anak autistik adalah memiliki hambatan dalam berbicara dan berkomunikasi, serta tingkah laku repetitif.
Apa yang dialami oleh seorang penyandang autisme dalam menghadapi kesehariannya, berbeda dengan apa yang kita rasakan. Mereka tahu bahwa mereka berbeda, dan beberapa dari mereka, malu akan hal tersebut.
Terkait dengan sensitivitas panca indera yang mereka miliki, kadang kala suara detak jam yang samar bagi kita bahkan bisa menjadi amat mengganggu pendengaran mereka. Cahaya yang redup bagi kita, bisa amat menyilaukan mereka. Demikian pula dengan kain halus bahan baju yang kita kenakan, bisa jadi terasa bagaikan ribuan jarum di kulit bagi mereka.
Pendidikan yang tepat bagi para penyandang autisme menjadi suatu kesulitan yang harus dihadapi para orang tua. Anak-anak ini kerap mengalami bully di sekolah dan lingkungan. Di grup surel puterakembara, tempat berkomunikasinya para orang tua yang memiliki anak penyandang autisme, orang tua kerap kebingungan meminta saran untuk mencari tak hanya sekolah, bahkan terapis yang tepat bagi anak-anak mereka. Apalagi, rumah mereka kadang jauh dari ibukota.
Terkait dengan tingkat stres orang tua, para peneliti dari University of Wisconsin-Madison mengikuti sekelompok ibu yang memiliki anak autistik remaja dan dewasa pada 2009. Saat mengukur hormon yang terkait dengan stres, mereka menemukan bahwa kadarnya hampir sama dengan tingkat stres tentara yang sedang berperang.
Stres juga dialami oleh saudara kandung para penyandang autisme. Beberapa di antaranya adalah perasaan malu, karena banyaknya stigma untuk anak-anak autistik ini seperti bodoh, gila, aneh. Para saudara kandung ini ada yang selalu merasakan amarah dan kadang bersalah. Mereka pun kerap membutuhkan bantuan dari sesama saudara dari penyandang autisme. Apakah Anda masih tega menggunakan kata autis sebagai bahan bercandaan?