Peta Pluto dari New Horizons

By , Sabtu, 8 Agustus 2015 | 11:30 WIB

Ketika akan mengunjungi daerah baru atau bepergian ke kota lain, apa yang kamu siapkan? Di antara semua barang tentunya ada peta yang dibawa untuk mempermudah perjalanan. Tanpa peta yang menjadi petunjuk arah kita tentunya akan kesulitan, apalagi jika daerah baru tersebut memiliki bahasa yang berbeda. Tentu sulit berkomunikasi.

Tapi seandainya suatu hari kelak kamu bisa mengunjungi Pluto yang jelas tidak berpenghuni. Bagaimana kamu bisa tahu di mana kamu mendarat atau ke mana kamu harus menjelajah? Terima kasih pada New Horizons, akhirnya untuk pertama kali kita bisa memetakan dunia baru yang beku di tepi Tata Surya!

Peta inilah yang akan menjadi tuntunan seandainya suatu hari kelak bisa menjelajah ke Pluto. Itu harapan dan mimpi. Tapi peta ini akan sangat berguna bari para astronom dan geolog yang mempelajari Pluto. Permukaan Pluto yang memiliki perbedaan komposisi, ada juga area yang masih baru terbentuk (dalam orde kurang dari seratus juta tahun) dan ada yang sudah terbentuk miliaran tahun. Ada gunung, lembah, cekungan, kawah dan dataran es yang sangat mulus. Tentunya untuk mempelajarinya kita juga harus memberikan identifikasi sebagai tanda pengenal.

Untuk memudahkan kita mengenali setiap fitur yang ada di Pluto, maka diabadikanlah nama ilmuwan, misi luar angkasa sampai makhluk mitologi dunia bawah tanah. Tak hanya Pluto. Charon, satelit Pluto juga diberi nama dengan nama-nama dari dunia sains fiksi yang tidak asing bagi para penggemarnya. Nama-nama tersebut masih bersifat informal sampai disetujui oleh IAU sebagai organisasi yang memiliki otoritas dalam penamaan obyek langit.

Jadi, sebelum kita bertualang ke Pluto dan Charon, mari kita kenali dulu wilayahnya.

!break!

Peta Pluto

Seperti halnya di Bumi, di Pluto ada kawah, gunung, bukit, dataran, lembah yang harus diberi nama agar mudah dikenali. Nama-nama yang dipilih pun unik dan masing-masing punya cerita sendiri. Setiap fitur di Pluto diabadikan dengan nama penjelajah bersejarah, nama-nama misi luar angkasa dan wahana antariksa, nama ilmuwan dan insinyur serta nama-nama mitologi dari dunia bawah. Setiap kategori nama didedikasikan untuk satu fitur tertentu.

Yang paling pertama dinamai adalah fitur area berbentuk hati yang berukuran 1590 km di Pluto. Wilayah hati yang juga merupakan waduk es di Pluto tersebut diberi nama sesuai nama penemu Pluto, Clyde Tombaugh.  Di setiap penamaan hanya digunakan satu nama dan diakhiri dengan bahasa latin dari fitur tersebut. Untuk wilayah hati di Pluto dinamai Tombaugh Regio atau Wilayah Tombaugh.

Selain nama Clyde Tombaugh sebagai penemu Pluto, nama Venetia Burney, Jan Oort, maupun Percival Lowell yang diabadikan sebagai nama kawah di Pluto.

Setiap kategori didedikasikan pada satu jenis fitur. Misalnya nama para ilmuwan dan insinyur untuk wilayah terang di Pluto sedangkan nama para penjelajah bersejarah diabadikan sebagai nama gunung.

Penamaan fitur Misi Luar Angkasa dan Wahana Antariksa dibagi atas 3 kategori yakni: (1)  Wahana yang mengorbit Bumi diabadikan pada nama dataran (planum) dan bukit (colles), (2) Wahana antariksa ke Bulan untuk fitur daerah yang memanjang (linea), dan (3) Wahana Antariksa antar planet untuk dataran luas (terra). Salah satu yang paling terkenal yang juga memperlihatkan kehadiran gletser es adalah dataran es yang diberi nama Sputnik Planum di Tombaugh Regio. Nama misi lainnya seperti Hayabusa, Viking, Venera, Voyager, dan Pioneer juga diabadikan namanya di Pluto.

Nama para ilmuwan dan insinyur diabadikan untuk wilayah terang (regio) dan kawah, seperti halnya pada wilayah hati yang terang. Untuk gunung (montes), tebing (rupes) dan lembah (vallis), tim New Horizons mengabadikan nama para penjelajah bersejarah di sana. Di antaranya adalah Norgay Montes dan Hillary Montes yang berasal dari nama dua pendaki yang pertama kali mencapai puncak Gunung Everest di Bumi. Nama kawah terbesar di Pluto, kawah Burney, diambil dari nama  Venetia Burney yang mengusulkan penggunaan nama Pluto untuk obyek yang ditemukan oleh Clyde Tombaugh di tahun 1930.

Nama-nama dari mitologi dunia bawah tanah juga diabadikan di Pluto. Untuk wilayah gelap (dark regio) dan bintik gelap (macula) diberi nama makhluk dari dunia bawah tanah sedangkan untuk lajur punggung gunung (dorsa) dan cekungan (cavus) diberi nama dari dunia bawah tanah. Para penjelajah dunia bawah tanah juga diabadikan sebagai nama cekungan sempit (fossa).

Ada nama-nama yang tentunya tak asing buat kita, di antaranya adalah Morgoth yang diabadikan sebagai nama bintik gelap di Pluto. Kalau masih ingat, bagi penggemar karya J.R.R Tolkien, Morgoth adalah nama tokoh antagonis dalam novel The Silmarillion yang juga disebutkan di LOTR. Selain Morgoth, ada si kera sakti Sun Wukong yang diabadikan sebagai nama cekungan sempit.

Dan yang mungkin cukup mudah kita kenali adalah nama Zheng He Montes aka Gunung Zheng He yang berasal dari nama Laksamana Zheng He atau Laksamana Cheng Ho, pelaut dan penjelajah samudera dari negeri Tiongkok yang melakukan penjelajahan antara tahun 1405 hingga 1433. Di Indonesia, beberapa tempat yang menjadi saksi keberadaan Zheng He adalah Mesjid Zheng He di Surabaya dan Patung serta Klenteng Zheng He di Semarang.