Suku Unik di Festival Topeng Malaysia

By , Rabu, 19 Agustus 2015 | 12:00 WIB

Warna-warni kostum dan topeng para peserta Malaysian International Mask Festival 2015 terlihat pelataran Gedung Malaysia Tourism Center (MaTic). Mereka tengah bersiap-siap untuk melakukan parade topeng sejauh satu kilometer melewati jalan-jalan utama di Malaysia. Namun, ada satu  warna kostum dan topeng yang berbeda dari para peserta parade lain. Warna coklat mendominasi rombongan peserta perwakilan dari Malaysia yang turut memeriahkan festival topeng.Anyaman-anyaman daun berwarna coklat muda melingkar di pinggang para penampil. Anyaman tersebut juga tampak di kepala. Sementara para peserta menggunakan baju berwarna coklat tua yang menutup hingga lutut. Ada pun topeng yang digunakan, berwarna coklat dengan corak warna putih dan hitam. Jika dilihat dari segi bentuk seperti wajah manusia yang lengkap dengan hidung, mata, alis, dan gigi. Namun setiap topeng yang digunakan para peserta festival tersebut memiliki ekspresi yang berbeda.Para peserta dengan penampilan yang berbeda tersebut berasal dari Orang Asli Carey Island, Selangor. Sekretaris Umum Deputi Kebudayaan, Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, Datuk Hj Gaffar Bin A. Tambi mengatakan Orang Asli Carey Island merupakan salah satu etnik Malaysia yang masih ada. Dan juga ia menambahkan Orang Asli Carey masih mengamalkan cara budaya hidup seperti dahulu kala. "Mereka bukan orang Melayu. Sudah lama ada. Di tempat tinggalnya masih ada 5.000-6.000 orang yang hidup. Mereka terdaftar orang sebagai warga Malaysia dan bisa memilih dalam pemilihan umum," jelasnya saat ditemuiKompasTravel usai pelepasan parade topeng di Malaysia Tourism Centre, Jumat (14/8) lalu.

Ketua Tim Orang Asli Carey Island, Maznah Anak Unyan menjelaskan setiap topeng yang digunakan memiliki arti dan mewakili jenis karakter. Ia melanjutkan terdapat empat jenis topeng yang tampil pada Malaysian International Mask Festival 2015. 

!break!

"Ada empat. Moyang bajus, Moyang Tok Naning, Moyang Putri Gunung Ledang, Moyang Pongkol. Topeng-topeng ini berguna untuk perayaan dan hiburan," kata Maznah kepada KompasTravel sebelum memulai parade.Ia menambahkan topeng-topeng tersebut digunakan saat pesta perkawinan, panen, perayaan syukur, musim tanam, dan menyambut tamu raja. Penggunaan topeng-topeng kayu tersebut, kata Maznah, sudah berlangsung sejak dulu hingga sekarang. Setiap tahun, lanjut dia, topeng-topeng tersebut masih digunakan untuk festival budaya pada bulan Februari dan Maret. Pada kostum yang digunakan, anyaman-anyaman daun memenuhi tubuh para peserta Orang Asli Carey Island. Maznah menjelaskan kostum beserta aksesoris yang digunakan merupakan buatan sendiri. Untuk aksesorisnya, Maznah menambahkan jika bahan pembuatannya dari daun nipah. Kemudian, ia bersama warga-warga di Carey Island. Sementara untuk kostum baju, berasal dari kulit kayu.

"Cara bikinnya ditumbuk-tumbuk pakai semacam palu dari kayu.  Dari kayu terap namanya. Kalau dipakai gak boleh kena air," ungkapnya. Namun saat ini, Maznah telah sulit menemukan bahan-bahan pembuat kostum dan aksesoris yang akan digunakan. Ia beralasan tempat tumbuh pohon-pohon nipah yang bermanfaat untuk bahan produksinya telah berubah menjadi kebun kelapa sawit. Tidak ada lagi sungai yang luas yang menjadi tempat tumbuh pohon-pohon nipah. Bahkan Maznah juga mengaku untuk membuat topeng Mah Meri, ia harus mencari bahan kayu hingga ke luar daerah yang ditinggalinya.Sementara untuk nama-nama aksesoris yang digunakan, Maznah menyebutkan nama-nama secara detil. Aksesoris berbentuk bulat berwarna hijau dan di bagian tengah terdapat anyaman seperti bintang bernama bunga jiring. Sementara yang menyilang di bahu bernama dendan papan dan melingkar di pinggang bernama tali angin. Untuk rumbai-rumbai yang menjulur hingga lutut, bernama kris pintal. Untuk bagian sanggul kepala, Maznah menyebutkan bengkal.Dengan kostum, aksesoris, dan budaya yang dijalankan Orang Asli Carey Island, Datuk Hj Gafar mengaku Suku Kaum Mahmeri di Carey Island sangat unik. Ia memiliki festival untuk pertanda rasa syukur yang membawa hasil bumi ke laut. Datuk menceritakan ketika ia pergi ke Carey Island, Orang Asli tinggal di dataran rendah. Ia mengatakan telah ada studi untuk meneliti Orang Asli Carey Island. Ia pun mengatakan telah mendaftarkan keanekaragaman budaya yang dimiliki Malaysia ini ke UNESCO.