Terapi Agar Anak Tidak Takut Pada Matematika

By , Rabu, 30 September 2015 | 20:00 WIB

Tidak sedikit dari kita saat sekolah punya ketakutan terhadap pelajaran matematika. Studi baru yang diterbitkan di jurnal Neuroscience meneliti anak-anak dengan kecemasan terhadap matematika dan menemukan les dapat mengubah sirkuit ketakutan di otak mereka.

Menariknya, perubahan ini bukan karena peningkatan kemampuan matematika. Kecemasan tak berpengaruh pada kinerja menurut studi ini. Tak ada perbedaan antara bagaimana kinerja anak dengan kecemasan tinggi atau rendah sebelum dan setelah les. "Kita sekarang dapat mengatakan perbedaan-perbedaan ini tidak benar-benar terkait dengan perbedaan kinerja," kata profesor psikiatri dan ilmu perilaku dari Stanford University School of Medicine sekaligus ilmuwan penelitian ini, Vinod Menon. "Tetapi perbedaan itu ada hubungannya dengan kecemasan yang memberi informasi mekanisme cara kerjanya," katanya.

Antara 17-30 persen anak usia SD dan SMP di AS memiliki ketakutan terhadap matematika. "Menyemplungkan anak-anak ini ke hal yang mereka takuti seperti matematika sama dengan memberi terapi eksposur," kata Menon. Seperti halnya mengenalkan ular atau laba-laba kepada orang yang takut, sehingga lama kelamaan menjadi kurang takut. Hipotesa mereka, anak yang takut matematika dapat menuai manfaat dengan lebih banyak menggelutinya.

Untuk menguji hipotesa itu, mereka meneliti anak kelas tiga dan mengukur kadar kecemasan matematika dengan kuesioner. Mereka dibagi menjadi dua kelompok: anak dengan kecemasan tinggi dan rendah. Anak-anak kemudian dipindai otaknya ketika menyelesaikan soal matematika, membuka perbedaan kunci antara kedua kelompok.

Anak-anak dengan kecemasan tinggi menunjukkan kadar aktivasi lebihi tinggi pada amigdala, daerah di otak yang bertanggung jawab untuk memproses stimuli ketakutan dan emosi. Aktivasi meningkat di area ini terlihat pada orang dengan penyakit kecemasan dan fobia.

Anak-anak kemudian diberi les privat matematika tiga kali seminggu, di mana mereka terpapar banyak sekali soal matematika, dibantu melewati kesulitan dan didukung oleh guru les. Delapan minggu kemudian, kedua kelompok mengalami perbaikan kinerja matematika dengan kadar yang sama. Tetapi kelompok dengan kecemasan matematika menunjukkan perubahan besar ketika peneliti memindai otak di akhir penelitian. Bagian amigdala yang sebelumnya aktif kini terlihat seperti otak anak yang tidak punya ketakutan matematika.

"Paparan berulang dapat membuat anak merasa lebih dapat mengontrol situasi yang melibatkan penyelesaian soal matematika, dengan demikian menurunkan ketakutan mereka," katanya.

Belum diketahui seberapa lama perubahan otak ini akan bertahan, apakah les juga membantu menerapi jenis ketakutan lain atau apakah les itu dapat diberikan manusia atau komputer. "Bagaimana kita dapat membuatnya berlaku di kelas dan di luar kelas? Ini masih menjadi pertanyaan terbuka," kata Menon. Dengan mencari tahu dengan tepat efek paparan matematika pada otak yang cemas, Menon dan rekan-rekannya mendemonstrasikan apa yang mungkin terjadi.