WWF-Indonesia: Kerusakan Laut di Indonesia Masih Bisa Diselamatkan

By , Kamis, 17 September 2015 | 20:00 WIB

Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata “Negeri Bahari” ? Apakah terbesit tentang kehidupan dasar laut yang dihiasi oleh kemolekan ragam biota nan penuh warna? Atau Anda sedang membayangkan pertunjukan cantik dari segerombolan ikan yang menari bebas menembus celah antar terumbu karang? Bila imajinasi itu singgah dalam pikiran Anda, mungkin Anda harus bersiap kecewa menghadapi kenyataan yang ada.

Kabar tak sedap kembali hadir dari WWF Indonesia. Dalam peluncuran buku Living Blue Planet Report pada Rabu (16/9) di Le Meridien Hotel, Jakarta, organisasi koservasi nasional ini melaporkan bahwa keadaan laut di Indonesia tengah mengalami kerusakan yang cukup kritis. Hal tersebut ditegaskan oleh Suseno, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan AntarLembaga dari Kementerian Kemaritiman dan Perikanan (KKP), ia menyebutkan ulah tangan manusia dalam menyalahgunakan teknologi merupakan faktor utama kerusakan laut. “Kecepatan teknologi dalam mengambil ikan tidak seimbang dengan perkembangbiakannya. Bila secara terus-menerus tidak diberi jeda untuk berkembang biak, maka habislah ikan-ikan di laut.” tukasnya.

Berdasarkan hasil penelitian Zoological Society of London (ZSL), selama 1970 hingga 2012 setengah dari populasi laut kian mengalami penurunan. Sedangkan di tahun 2014, KKP mencatat kerugian yang dialami oleh negara akibat illegal fishing sebesar Rp 101 triliun yang terdiri dari 25% total potensi perikanan Indonesia 1, juta ton per tahun.

Tidak hanya itu, aktivitas industri pariwisata bahari yang melonjak dalam pembangunan infrastruktur, eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan wisata yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab juga dituding sebagai faktor utama yang mengancam kelestarian laut karena telah merusak habitat mereka. Hal ini membuktikan bahwa ketidaksiplinan pihak-pihak terkait dalam menjaga harmoni keberlangsungan hidup sumber daya laut telah mengantar nasib negara maritim ini pada ujung tanduk. “Sistem penjaringan ikan yang ngawur membuat banyak isi laut juga terangkat hingga akhirnya di permukaan hanya menjadi bangkai dan sia-sia. Sedangkan, salah satu di antaranya adalah terumbu karang, tempat di mana ikan tumbuh dan berkembang biak.” ujar Erfansjah, CEO WWF Indonesia.

Melalui Living Blue Planet Report, WWF kembali mengajak seluruh pihak terkait untuk menerapkan sustainable principle. “Sebelum benar-benar terlambat, mari kita mempebaiki kondisi yang masih bisa untuk diselamatkan.  Seluruh aktivitas industri tersebut harus diimbangi dengan konservasi yang berpedoman pada index dalam laporan ini.” tambah Erfansjah.

Signing Blue merupakan inisiatif WWF untuk mengajak para pelaku industri pariwisata menerapkan sustainable principle. Mengawali aksi ini, WWF berhasil menggandeng PATA, Triptus, dan Wallacea untuk mengembangkan bisnis pariwisata yang bertanggung jawab. (WWF-Indonesia)

Signing Blue merupakan aksi yang dicanangkan oleh WWF untuk mengajak para pelaku industri pariwisata menciptakan bisnis pariwisata yang berkelanjutan. Mengawali langkah ini WWF telah menggandeng tiga organisasi besar di industri pariwisata, yakni PATA (Pasific Asia Travel Association), Triptus, dan Wallacea untuk mempraktikan bisnis pariwisata yang bertanggung jawab. Poernomo Siswoprasetijo selaku CEO PATA mengungkapkan bahwa pengembangan wisata bahari sebagai sektor tereksotis di Indonesia harus dalam kondisi yang sehat sehingga dapat terus dilanjutkan untuk mendukung pencapaian target 20 juta wisatawan di tahun 2019 mendatang. “Kami bersedia menandatangani Signing Blue dan komit untuk bersama-sama melakukan konservasi bersama rekan-rekan WWF. Juga mengelola berbagai daerah yang memiliki potensi industri wisata bagi masyarakat lokal.” Tukasnya.

Kementerian Kemaritiman dan Perikanan menyambut baik inisiatif ini dengan turut bersinergi bersama WWF di lapangan dalam mengawasi serta melaksanakan konservasi untuk mewujudkan pariwisata yang berfokus pada kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. “Inisiatif ini sesuai dengan Nawa Cita yang menjadi pedoman kita hingga 2025. Sudah saatnya masyarakat Indonesia merubah mindset bahwa negara ini tidak sekadar negara bahari, melainkan negara maritim yang dapat bersaing dalam bidang ekonomi dengan menonjolkan kekayaan baharinya.” Tandas Suseno.