Menengok Tokyo di Zaman Edo

By , Minggu, 27 Desember 2015 | 09:00 WIB

Kita berada di jembatan Nihonbashi, salah satu ikon penting yang menandai perubahan Tokyo pada zaman Edo. Nihonbashi juga merupakan distrik perdagangan besar di zaman Edo. Itu memang hanya replika Jembatan Nihonbashi yang dipamerkan di Museum Edo-Tokyo, Jembatan itu mengantar pengunjung untuk memasuki atmosfer sebuah periode penting dalam sejarah Jepang, periode Edo (1603-1868).

Dengan bantuan diorama kita bisa membayangkan perahu-perahu kayu melintas di bawah jembatan yang menghubungkan dua wilayah yang dipisahkan sungai. Rumah-rumah kayu beratap sirap berderet di kedua sisi sungai dengan jendela-jendela yang tertutup tirai tipis.

Berbeda dengan rumah-rumah para penguasa di zaman Edo yang besar dan luas dengan banyak ruangan, rumah-rumah rakyat jelata saling berimpitan dan sederhana. Tengok misalnya kediaman penguasa di zaman awal Edo, Matsudara Tadamasa yang luas dan dikelilingi taman.

Kemegahan semakin terlihat mencolok di kompleks Istana Honmaru dan Ninomaru yang terletak di dalam kastil Edo pada masa akhir kekuasaan Tokugawa. Dengan luas lantai yang mencapai 37.597 meter persegi, Istana Honmaru yang dibangun sekitar tahun 1845, merupakan bangunan berbahan kayu terluas di zaman Edo.

Di periode itu, Nihonbashi memiliki peran penting sebagai kawasan perdagangan. Keluarga Mitsui menjadi motor penggerak pertama di kawasan ini dengan menjual kimono dari pintu ke pintu, hingga akhirnya mampu mendirikan sebuah pusat dagang yang menampung beragam jenis barang.

Dari situ kawasan Nihonbashi berkembang makin pesat dan menjadi salah satu pilar ekonomi di Tokyo. Beberapa bangunan yang saat ini berdiri di sekitar Jembatan Nihonbashi adalah Bank of Japan yang berarsitektur Eropa dan Tokyo Stock Exchange. Selain dipamerkan di Museum Edo-Tokyo, replika jembatan Nihonbashi juga dipamerkan di Toei Kyoto Studio Park, Kyoto.

!break!

Masyarakat Edo

Museum Edo-Tokyo atau juga dikenal dengan nama Edo Tokyo Hakubutsukan terletak di Distrik Ryogoku, Tokyo. Museum yang dibuka pada Maret 1993 ini bisa dicapai dengan perjalanan kereta api dari Stasiun Ryogoku.

Museum ini terbagi hingga tujuh lantai. Selain ruang pamer juga terdapat ruang audio-visual dan perpustakaan. Jika beruntung, kita dapat menyaksikan pertandingan sumo yang biasa digelar di salah satu ruangan. Sayang, saat rombongan dari Japan Foundation Jakarta berkunjung ke sana November lalu, jadwal pertandingan sedang kosong.

Di lantai bawah, kita dapat menikmati berbagai rekam jejak kehidupan masyarakat pada zaman Edo dengan lebih detail dan disajikan dalam perbandingan skala yang sesuai aslinya. Kita bisa mengintip tradisi Edo dalam proses kelahiran bayi yang mengharuskan sang ibu melahirkan dalam posisi duduk. Atau seperti apa praktik pekerjaan pertukangan mengolah material kayu yang sangat populer pada zaman itu, yaitu edo sashimono.

Pekerjaan ini membutuhkan keahlian dan ketekunan yang luar biasa karena produk yang dihasilkan harus akurat. Edo sashiomono dikenal dengan desainnya yang sederhana, tetapi memiliki struktur kuat. Sampai kini, Edo sashimono menjadi acuan masyarakat Jepang dalam memproduksi berbagai produk kayu.

Ada pula berbagai teknik mencuci ala Jepang seperti araihari, itabari dan shinshibori yang masing-masing digunakan pada jenis kain yang berbeda.

Teknik itabari yang jauh lebih sederhana apabila dibandingkan dengan araihari dan shinshibori, menjadi teknik yang paling banyak dipakai dan populer hingga saat ini. Teknik itabari adalah teknik mencuci menggunakan papan datar yang memiliki permukaan lebar.

Era akhir zaman Edo ditandai dengan kehidupan masyarakat yang semakin maju. Salah satunya ditandai dengan kehadiran percetakan dan toko buku. Kisah yang terentang di museum ini bisa menjadi bekal awal sebelum kita menjelajahi sudut-sudut Tokyo yang metropolis.