Ikan Pelangi Berkelopak Mata Emas dari Papua

By , Kamis, 7 Juli 2016 | 20:00 WIB

Delapan jenis ikan pelangi ditemukan di wilayah kepala burung Papua. Temuan itu merupakan buah dari ekspedisi internasional rainbowfish Papua yang dilakukan tahun 2007-2008 lalu.

Kadarusman, pakar taksonomi molekuler dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, yang memimpin ekspedisi, mengatakan, ikan pelangi yang baru saja ditemukan berasal dari genus Melanotaenia. Ikan-ikan itu ditemukan saat tim peneliti menyisir perairan wilayah Sorong Selatan, Teluk Bintuni, Manokwari Selatan, dan Teluk Wondama. Delapan jenis ikan pelangi yang baru saja ditemukan adalah M klasioensisM longispinaM susiiM manibuiiM naramasaeM rumberponensisM sikuensis, dan M sembrae. 

M sembrae merupakan salah satu spesies yang menarik. "Rainbow sembrae dibalut warna kombinasi citron dan silver metalik," kata Kadarusman.

"Ring kelopak matanya kuning emas." Sirip bagian belakang ikan tersebut berwarna oranye. Setiap baringan sisiknya dipertegas dengan garis batas yang juga berwarna oranye. Ikan yang ditemukan di Sungai Sembra, Sorong Selatan, itu sekaligus menggarisbawahi pentingnya kawasan karst. Air sungai tempat ikan itu hidup bersumber dari kawasan karst.

Media Fitri Nugraha dari Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok yang terlibat penelitian mengatakan, delapan spesies baru kali ini ditemukan berkat identifikasi dengan pendekatan mikrosatelit (gen inti).

"Pendekatan mikrosatelit (gen inti) diaplikasikan untuk mendeskripsi spesies baru yang memiliki kekerabatan yang sangat dekat," ungkapnya.

Penanda pada pendekatan tersebut mampu membedakan perbedaan karakter pada populasi dengan lebih akurat daripada penanda lain dalam identifikasi keragaman hayati.

Sejak tahun 2007, Kadarusman dan timnya telah menemukan 15 jenis ikan pelangi di Papua. Dia telah mengoleksi lebih dari 6.223 spesimen yang ditangkap dari 3,020 jejaring drainase air tawar meliputi sungai, danau, dan rawa genangan.

Laurent Pouyaud dari Institut de Recherche pour le Développement, Perancis, yang turut bekerja sama dalam penelitian, mengatakan, masih ada sekitar 20 spesies baru yang belum terungkap oleh peneliti, khususnya di daerah-daerah karst di Papua Barat, seperti di Ayamaru dan Kaimana. 

Kadarusman mengatakan, pemerintah perlu mendukung penelitian domestikasi dan konservasi ikan pelangi. Golongan ikan itu termasuk salah satu ikan berharga mahal. Di Eropa, Amerika, dan Australia, jantan ikan itu dibanderol dengan harga 25 dollas AS per ekor.