Plastik Kini Mencemari Setiap Sudut Bumi

By , Selasa, 26 Januari 2016 | 11:00 WIB

Manusia sudah membuat plastik sejak perdang kedua untuk melapisi bumi seluruhnya dalam kantong plastik, sebuah studi interneasiolinal telah mengungkapkannya. Kemampuan untuk membungkus planet dalam plastik sangat mengkhawatirkan , kata para Ilmuwan, untuk itu mereka juga menegaskan bahwa aktivitas manusia saat ini memiliki dampak merusak bumi kita.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Antropocene, menunjukkan bahwa tidak ada bagian di Planet ini yang terbebas dari sisa wadah-wadah air, kantong ptlasktik, polustyrene, compact disc, filter rokok,nilon dan plastik lainnya. Ada juga yang berbentk biji-bijiam mikroskopis, dan dampaknya sangat sering merusak.

"Hasil yang didapat sangat mengejutkan," kata penulis dari penelitian tersebut, Profesor Jan Zalasiewicz, dari Leiceter University. "Kami menyadari bahwa manusia telah membuat peningkatan jumlah produksi dari berbagai jenis plastik- dari bahan Bakelite ke kantong plastik hingga PVC, selama 70 tahun terakhir, namun kita masih belum tahu seberapa jauh plastik-plastik ini sudah berkeliling di seluruh planet." Tidak hanya plastik yang terlihat berkeliaran di atas lautan, tetapi ada juga yang sudah tenggelam di dasar laut. Hal ini menunjukkan bahwa planet kita berada dalam kondisi yang tidak baik.

Titik penting tentang penelitian ini ialah bahwa keberadaan plastik saat ini harus dianggap sebagai zaman baru. Zalasiewicz adalah ketua kelompok dari ahli geologi yang menilai apakah iya atau tidak tindakan manusia ini telah berujung menjadi zaman geologi baru, yang disebut Anthropocene, yang akan mengakhiri zaman Holocene yang sudah dimual sejak 12.000 tahun yang lalu.

Sebagian besar anggota komite Zalaisiewicz yang percaya bahwa Anthropocene telah dimulai dan pada bulan ini mereke menerbitkan sebuah makalah ilmu yang berpendapat bahwa beberapa kegiatan manusia pascaperang menunjukkan bahwa spesies kita telah mengubah geologi. Secara khusus, isotop radioaktif yang dilepaskan oleh bom atom meninggalkan sebuah tanda yang kuat di atas tanah bahwa peradaban masa telah membawa sesuatu yang aneh telah terjadi.

Selain itu, peningkatan jumlah karbondioksida di lautan, pembuatan gedung-gedung beton yang besar dan meluasnya penggunaan alumunium juga ditandakan sebagai faktor kelahiran dari zaman Anthropocene. Dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan juga termasuk dengan meningkatnya penggunaan plastik.

Namun Zalasiewicz berpendapat bahwa kantong plastik dan wadah minum plastik memainkan peran yang jauh lebih besar dalam mengubah planet. "Pertimbangkan ikan-ikan di laut," katanya. "Sebagian besar dari jumlahnya sekarang mempunyai plastik di dalam tubuhnya. Mereka berfikir bahwa plastik tersebut adalah makanannya dan mereka memakannya, sama seperti burung laut yang memberi makan plastik kepada anak-anaknya. Kemudian beberapa dari mereka melepaskannya sebagai kotoran di laut dan berakhir tenggelam di dasar laut. Planet ini perlahan-lahan ditutupi plastik. "

"jika di total, lebih dari 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahun, dikatakan oleh The Geological Cycle of Plastics dan penggunaan mereka sebagai indikator stratigrafik dari Anthroocene."

"Pada tahun 1950, kami hampir tidak ada sama sekali. Ini adalah kenaikan yang luar biasa," tambah Zalasiewicz. "Jumlah tahunan 300 juta ton dekat sekali dengan jumlah seluruh populasi manusia di Planet. Dan angka pembuatan plastik akan terus tumbuh. Jumlah total plastik yang diproduksi sejak perang dunia adalah sekitar 5 miliar ton dan sangat mungkin untuk mencapai 30 miliar pada akhir abad ini. "

Beberapa karya ilmiah menjelaskan, plastik ini sudah berada di dasar laut, pulau-pulau terpencil, terkubur di bawah tanah, dan masuk ke dalam rantai makanan. Bahkan di daerah kutub, yang dianggap masih menjadi zona murni, sudah tercemar. Pada tahun 2014, penelitian menemukan jumlah signifikan dari butiran plastik yang beku di laut Arktik yang telah tersapu dari Samudera pasifik.

Dalam beberapa kasus, satwa liar mulai menyesuaikan dengan penyebaran plastik. Sebagai contoh, di pulau-pulau seperti Diego Garcia, kelomang telah menggunakan botol plastik sebagai sarang mereka. Namun, sebagian besar plastik memiliki dampak yang sangat berbahaya pada satwa liar. Hewan seperti burut laut hingga kura-kura penah menelan plastik yang berada di laur kemudian tersedak dan mati. "Masalahnya adalah bahwa plastik sangat lambat terurai, jadi kita akan terjebak dengan masalah ini untuk waktu yang lama," kata Zalasiewicz.