Suka Cita Kematian di Toraja

By , Kamis, 24 Maret 2016 | 20:28 WIB

Dua tahun silam saya berjumpa dengan Layuk Sarungallo, Kepala Adat Tongkonan Kete’Kesu di Toraja Utara. Kendati aluk todolo— atau agama nenek moyang—tidak populer lagi bagi warga Toraja, teladan dan filosofi hidup leluhur mereka masih berlanjut hingga sekarang.

“Kenapa kami dimakamkan di tebing batu, atau di dalam gua?” ujar Layuk beretorika. Toraja, menurutnya, telah diberkahi dengan kawasan perbukitan karst yang tandus. Pemahaman tentang kondisi alam Toraja itulah yang membuat leluhur Layuk memberikan teladan bagi penerus mereka untuk memakamkan jenazah di tebing-tebing batu—tradisi yang berlanjut hingga sekarang. “Kalau kami dimakamkan di tanah, kami tidak bisa hidup karena tidak bisa berladang, tidak bisa bersawah, tidak bisa ada peternakan.”

Beberapa hari kemudian, saya berkesempatan menyaksikan Ma'Pasonglo' yang merupakan bagian dari upacara Rambusolo'. Inilah puncak acara pemakaman Puang Dina Lona' Londongallo, keturunan bangsawan setempat. Saya menyaksikan arak-arakan panjang di arena terbuka tempat pondok-pondok upacara yang berarsitektur khas Toraja. Ada juga iring-iringan kerbau. Pada punggung kerbau terdepan, tampak berhias kain pote—semacam busana khas Toraja tanda berduka. Di belakang kerbau-kerbau yang berbaris tadi tampak rumah mini untuk mengusung jenazah.

Bagi orang Toraja, kematian sebuah tubuh bukanlah suatu peristiwa yang sekonyong-sekonyong membuat hati amat susah, dan merupakan akhir seperti yang dipandang di tempat lainnya. Sebaliknya, kematian hanyalah satu tahap dalam proses panjang. Orang-orang tersayang yang telah tiada dirawat di rumah selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah ia meninggal.

Orang Toraja tidak menolak perawatan medis bagi keadaan yang mengancam jiwa. Mereka juga tidak lari dari rasa duka saat orang yang tercinta tiada. Akan tetapi, hampir semua orang di sini menganggap kematian sebagai pusat kehidupan. Mereka percaya bahwa orang tidak sungguh-sungguh mati saat meninggal dan bahwa hubungan manusia yang kuat terus berlangsung sampai sesudah kematian.

Mereka menganggap, kematian hanya jenis lain dari hubungan di Toraja. Sering kali hubungan mendalam dengan orang terkasih tidak berhenti saat dimakamkan. Secara rutin, sejumlah orang Toraja utara mengeluarkan kerabatnya dari makam untuk menggantikan baju atau kain kafannya. Mereka menjaga agar keluarga yang wafat tetap dekat di hati, sekaligus dekat dengan kerabat yang masih hidup.

Bagaimana orang Toraja secara turun-temurun meyakini budaya leluhur tentang makna kematian? Simak kisah Amanda Bennett dan fotografer Brian Lehmann bertajuk “Ketika Kematian Bukanlah Berpisah...” di majalah National Geographic Indonesia edisi April 2016.

 

Sampul majalah National Geographic Indonesia edisi April 2016. Edisi ini berkisah tentang Kehidupan selepas wafat di Toraja, kisah perjalanan Paul Salopek "Keluar dari Nirwana" yang menjelajahi Tanah Hantu di Armenia, sains ajal, dan proyek Photo Ark National Geographic. (National Geographic Indonesia)