Monumen Colombus, Mengenang Sang Penjelajah yang Kesasar

By , Rabu, 22 November 2017 | 10:00 WIB

Christopher Colombus—atau bernama sejati Cristoforo Colombo—bukanlah seorang yang  jago ilmu perbintangan. Lelaki asal Italia yang keras kepala ini juga bukan orang Eropa pertama yang menyeberangi Samudra Atlantik. Namun, dia dikenang sebagai penemu “Dunia Baru” yang memisahkan “Dunia Lama”.

Di Rambla, sebuah monumen didirikan untuk mengenang empat abad pelayaran Colombus yang pertama guna mencari Dunia Baru. Setelah pembangunan selama enam tahun, monumen diresmikan saat pekan raya internasional di Barcelona pada 1888. Penggagas monumen adalah Antoni Fages i Ferrer, seorang hartawan dan pengagum Colombus, pada 1856. Setelah desain monumen dilombakan, Gaietà Buigas i Monravà menjadi pemenangnya.

Tinggi monumen itu sekitar 57 meter, menjulang di jantung wisata pesisir Barcelona, Spanyol. Di ujungnya tampak sebuah patung perunggu menampilkan sosok Colombus setinggi tujuh meter yang mengenakan busana abad ke-15, berdiri pada tumpuan globe yang bertuliskan “tierra”—berarti bumi. Tangan kanannya menunjuk lokasi “Dunia Baru”, sementara tangan kirinya memegang gulungan kertas. Sebuah jangkar menjadi kalung pilar, sementara pada bagian dasar pilarnya dikelilingi 12 patung yang merupakan perwujudan orang-orang di sekitar Colombus.

Mengapa bertempat di Barcelona? Usai pelayarannya yang pertama, Colombus memberikan laporan pertanggungjawabannya kepada para penyandang dana di Barcelona: Ratu Isabella I dari Castile dan Raja Ferdinand dari Aragon.

Sejatinya, tujuan pelayaran Colombus bukan untuk mencari “Dunia Baru”. Bukan pula untuk membuktikan bumi itu bulat. Dia bertujuan menemukan rute laut menuju daratan yang sudah diketahui letaknya: kawasan Timur Jauh. Rute laut diperlukan lantaran pasca-Perang Salib, orang Eropa sulit mencapai Asia lewat jalan darat. Colombus menyebut rencananya sebagai “The Enterprise of India”. Toponimi India, pada saat itu, tidak hanya merujuk pada negeri di Teluk Benggala, tetapi juga kawasan Asia Tenggara, termasuk kepulauan rempah di Indonesia.

Berdasar kisah Marcopolo yang konon pernah singgah di Sumatra, mereka meyakini bahwa kepulauan di timur memiliki kekayaan rempah nan melimpah. Berdasar kisah Marcopolo pula, Colombus menentukan bahwa India terletak sekitar enam ribu kilometer di sebelah barat Eropa. Celakanya, jarak yang dimaksud itu baru merupakan jarak antara Eropa dan pantai timur Amerika.

Pada 12 Oktober 1492, setelah dua bulan berlayar dari Palos-Spanyol, Colombus melihat daratan—kini Kepulauan Bahama, Amerika Selatan. Setiap tahunnya, hari pendaratan Colombus  tadi menjadi hari libur nasional di Spanyol.

Colombus memberi toponimi untuk daratan yang baru dijejaknya dengan nama San Salvador. Suku aslinya bernama Arawak, namun lantaran Colombus sangat yakin bahwa pelayarannya telah sampai ke India, dia pun menyebut mereka sebagai “Indian”.

Colombus memang penjelajah renaisans yang keras kepala. Setelah menghadap bangsawan Barcelona pada 1493, dia pun berlanjut menjelajahi lautan dengan tiga pelayaran berikutnya ke Kepulauan Karibia, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah.

Setiap tahunnya, hari pendaratan Colombus dirayakan sebagai hari libur nasional di Spanyol. Namun, ironisnya, kelak orang juga mengenang pendaratan itu sebagai titik awal pembantaian besar-besaran pribumi Amerika.