Cerita Sang Kapten Kapal dari Ujung Kulon

By , Sabtu, 28 Mei 2016 | 11:00 WIB

Namanya Mursalim. Teman – temannya biasa memanggil dengan nama 'Doyok'. Pria berusia 31 tahun itu berperawakan tinggi, berkulit sawo matang dan berambut cepak. Doyok sangat ramah, santun dan murah senyum. Sesekali ia pun bercanda dengan lawan bicaranya.

Kecintaanya terhadap kapal dan kelautan mengantarkannya berlabuh sampai ke Lampung. Doyok kini dipercaya sebagai kapten kapal penyebrang ke pulau Peucang maupun Handeleum. Tiap pagi sekitar tujuh pagi ia memimpin anak buah kapal dan membawa wisatawan berangkat ke pulau-pulau tersebut. Sore harinya sekitar pukul empat atau lima kapal penyeberang yang ia pimpin kembali ke dermaga di Sumur. Pekan minggu lalu Doyok berkesempatan menjadi kapten kapal yang mengantarkan tim National Geographic Indonesia dan Blacktrailers Community menuju ke Pulau Peucang dan Handeleum.

Doyok berdiri diatas sampan saat akan menuju kapal penyeberangan di dermaga Sumur, Banten (22/5). (Rahmad Azhar/National Geographic Traveler)

Pulau Peucang dan Handeleum memiliki pesona pasir putihnya. Di pulau itu juga menyuguhkan perairan biru yang jernih. Bagi yang suka berenang dan snorkeling bisa dilakukan di pulau ini. Untuk menuju kesana kita harus menyebrang menggunakan kapal selama dua hingga tiga jam.

Doyok berlabuh ke laut jika cuaca mendukung untuk mencari ikan dan kemudian dijual ke pembeli. Kesadarannya sebagai penduduk asli Ujung Kulon menggerakkan dia untuk aktif dalam penyeberangan ke pulau-pulau sebelah. Bukan tanggung jawab yang enteng sebagai kapten kapal. Tiap kali akan berlayar dia harus mengecek seluruh peralatan kapal seperti mesin dan kemudi kapal. Doyok selalu semangat dalam menjalani kesehariannya sebagai nelayan dan kapten kapal.

Kapal-kapal nelayan bersandar di dermaga Sumur, Banten (22/5). (Rahmad Azhar/National Geographic Traveler)

!break!

“Ujung Kulon biar bisa lebih maju dengan potensi wisatanya” ujar Doyok. Berharap agar pemerintah dapat menyumbangkan beberapa kapal penyeberang untuk mengantar wisatawan. Tujuannya agar Ujung Kulon lebih dikenal dengan masyarakat luas dan mampu menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia.

Jika kita mendengar Ujung Kulon hal yang langsung terpikir adalah badak. Memang benar Ujung Kulon merupakan taman nasional yang telah diresmikan tahun 1991 oleh UNESCO sebagai Natural World Heritage Site (Situs Warisan Alam Dunia). Saat ini, terdapat sekitar 50-60an ekor badak yang hidup di habitat Taman nasional Ujung Kulon. Namun potensi wiata lain sebenarnya tersembunyi di daerah ini, seperti penyeberangan ke pulau dan pesona pantai yang berpasir putih menjadikan Ujung Kulon destinasi cantik untuk dikunjungi.

Selalu mengecek kondisi oli dan bahan bakar mesin kapal setiap akan melakukan penyeberangan ke pulau (22/5). (Rahmad Azhar/National Geographic Traveler)

Tak jarang wisatawan lokal maupun dari luar Nusantara datang kesini. Kedatangan wisatawan ini memberikan keuntungan bagi warga setempat. Beberapa nelayan memanfaatkan kondisi ini untuk menambah penghasilan dengan mengantar wisatawan menyeberang.

Ruangan kemudi kapal sang kapten (22/5). (Rahmad Azhar/National Geographic Traveler)

Di mata keluarga, Doyok lebih dari seorang kepala keluarga. Perannya tak tergantikan sebagai seorang ayah dan kapten kapal penyeberang. Tiap kali pulang ke rumah, Naila si putri bungsu selalu meminta gendong ayahnya. Doyok memiliki seorang istri bernama Adekhayati. Pasangan ini dikaruniai dua buah hati, anak pertama bernama Iqram yang berumur tujuh tahun dan adiknya Naila yang masih balita.!break!

Menunggu calon penumpang yang nantinya diantar ke pulau seberang (22/5). (Rahmad Azhar/National Geographic Traveler)

Doyok dan keluarga tinggal di rumah yang berukuran sekitar 10 meter. Berhalaman depan langsung dengan dermaga kecil Muara Baru, Sumur, Pandeglang. Rumah ini pun dimanfaatkan sang istri untuk membuka warung kelontong guna menambah penghasilan suami. Tiap kali liburan, kerabat dekat selalu datang berkunjung. Mereka membantu Adekhayati melayani para pembeli. Canda tawa dan keakraban keluarga Doyok menjadikan suasana rumah ini menjadi hangat tanpa mempedulikan ukurannya yang kecil.     

Doyok mengecek kendali kapal sebelum melakukan pemberangkatan (22/5). (Rahmad Azhar/National Geographic Traveler)

Diluar keseharian sebagai nelayan dan kapten kapal Doyok memiliki kegiatan lain. Kegiatan ini tentunya mendukung juga menunjang fasilitas untuk wisatawan. Beberapa penginapan bekerjasama dengan Doyok untuk menyuguhkan ikan bakar hasil tangkapan dari laut untuk sajian makan malam. Bersama istri dan kerabat lain, Doyok saling membantu untuk menyiapkan hidangan ini.

Doyok menggendong putri kecilnya, Naila di dalam rumahnya (21/5). (Rahmad Azhar/National Geographic Traveler)

!break!

Jalan yang belum diaspal, fasilitas dermaga yang memprihatinkan, pengetahuan warga sekitar tentang Ujung Kulon masih minim seharusnya pemerintah lebih peka tentang keadaan nyata yang ada di Ujung Kulon ini. Perbaikannya bisa melakukan koordinasi dengan warga ataupun harus menggandeng pihak lain. Betapa indah dan nyamannya Ujung Kulon jika jalan diaspal dan fasilitas penyeberangan terpenuhi.

Adekhayati sang istri membuka warung kelonting di rumahnya untuk membantu menambah penghasilan suami, Sumur, Banten (22/5). (Rahmad Azhar/National Geographic Traveler)

Bukan melulu tentang habitat badaknya yang harus diperhatikan, namun warga maupun alam yang memiliki potensi pengembangan patut diberikan perhatian juga. Cerita ini hanya secuil gambaran yang mewakilkan kekurangan yang dimiliki Taman Nasional Ujung Kulon. Sekecil apapun sikap peduli terhadap kondisi ini, kalau bukan dimulai dari diri sendiri lantas siapakah yang akan peduli dengan keadaan yang ada disana.

Pribadi Doyok yang memiliki peran lebih dari seorang ayah patut kita teladani. Semangat, ulet dan kemauannya memperkenalkan Ujung Kulon patut juga diacungi jempol. Semangat ini semoga tumbuh juga di penduduk setempat agar Ujung Kulon kian familiar dan memiliki daya tarik wisata tersendiri di negri ini.