Tenun Ikat Rote, Cermin Tradisi dan Budaya Masyarakat Rote Ndao

By , Jumat, 15 Juli 2016 | 20:00 WIB

Berkunjung ke Pulau Rote belum lengkap jika belum menyambangi Kampung Ndao, sentra kerajinan tenun ikat khas Rote di Ba’a. Di kampung ini, mayoritas penghuninya merupakan penduduk Pulau Ndao yang menetap di Pulau Rote. Saat memasuki kampung, kami disambut kain-kain tenun yang berjajar rapi di teras-teras rumah. Hampir seluruh penduduk kampung ini bermata pencaharian sebagai pengerajin tenun ikat.

Kain tenun ikat Rote Ndao telah ada sejak ratusan tahun silam. Sebelum mengenal kapas, kain tenun dibuat dari bahan serat gewang. Tenunan yang dihasilkan berupa sarung yang disebut Lambi Tei dan selimut yang disebut Lafe Tei, dipakai sebagai pakaian harian maupun pakaian pesta.

Sebelum mengenal zat pewarna dari produk industri, orang Rote menggunakan pewarna tradisional seperti mengkudu, tarum, kunyit, dan lain sebagainya. Saat ini, penenun Rote cenderung menggunakan zat pewarna buatan dibanding pewarna tradisional. Sebenarnya, pada corak kain tenun Rote hanya terdapat warna hitam, merah, putih dan kuning. Tetapi seiring perkembangan zaman, banyak kain Rote yang mengalami modifikasi, sehingga memiliki corak dan warna yang lebih beragam.

“Dulu, satu kain tenun dibuat bisa sampai satu tahun karena harus buat benangnya dulu, tapi sekarang karena sudah pakai benang pabrik, satu kain tenun bisa jadi dalam satu bulan,” ungkap Yitdahlia Toelle, salah satu pengerajin tenun ikat di Kampung Ndao, Ba’a.

Kain tenun bukan hanya digunakan sebagai pakaian sehari-hari, tetapi juga memiliki arti dan peranan penting dalam banyak aspek kehidupan masyarakat tradisional Rote Ndao. Dalam upacara perkawinan adat Rote, kain tenun digunakan sebagai  kelengkapan busana pengantin, barang antaran dan penutup tempat sirih saat meminang gadis.

Saat upacara kematian, kain tenun dipakai untuk menutup jenazah, selain itu kain tenun juga dibentangkan di bagian bawah plafon rumah untuk menaungi tempat tidur jenazah. Saat jenazah diangkat keluar rumah untuk dimakamkan, kain tenun yang dibentangkan diambil kembali dan disimpan oleh kepala suku.

Bagi masyarakat tradisional Rote, menenun merupakan keahlian yang wajib dimiliki oleh seorang wanita. Kedewasaan wanita Rote tak hanya diukur oleh usia semata, melainkan juga dari kemampuannya mengikat motif, mencelup dan menenun. Jika keahlian tersebut sudah dikuasai, maka wanita tersebut dianggap pantas untuk berumah tangga.

“Kalau belum bisa menenun, belum boleh menikah,” ujar Yitdahlia.

Di samping itu, kain tenun juga mencerminkan status sosial seseorang. Pada masa lampau, orang Rote Ndao dapat mengetahui apakah seseorang merupakan raja, kaum bangsawan, panglima perang, atau rakyat biasa dari corak dan hiasan pada kain tenun yang dipakai.

Saat ini, pemakaian kain tenun tak lagi mengacu pada status sosial. Kain tenun khusus memang masih dipakai pada upacara-upacara adat, tetapi kini kain tenun sudah banyak diproduksi sebagai cendera mata dalam beragam bentuk, seperti tas, aksesoris dan ikat kepala.

Kami meninggalkan kampung tersebut dengan sekantong kain tenun berayun-ayun dalam tentengan tangan.  Tentu saja, tenun ikat akan menjadi buah tangan yang unik bagi kerabat di rumah. Sebelum kami pergi, Yitdahlia berpesan, “Kain tenun itu jangan dicuci dengan sabun deterjen, pakai saja sampo warna hitam, biar warnanya tidak pudar. Jangan juga dijemur di bawah sinar Matahari, cukup diangin-anginkan saja.”